Kisah Soekarno dan Mahbub Djunaidi melintasi batas kuasa: dari pujian di Istana hingga makan siang penuh risiko di masa sunyi.
KOSONGSATU. ID – Persinggungan batin antara pemimpin besar dan jurnalis muda ini kemudian merajut sebuah jalinan emosional yang melampaui sekat-sekat formal. Bung Karno tidak hanya melihat Mahbub sebagai pengikut, melainkan sebagai kawan diskusi yang memiliki “frekuensi” serupa dalam mencintai tanah air.
Kedekatan inilah yang membuat kisah Soekarno dan Mahbub Djunaidi melintasi batas kuasa: dari pujian di Istana hingga makan siang penuh risiko di masa sunyi. Ketika roda politik berputar dan membawa Soekarno ke titik nadir, Mahbub tetap setia hadir, membuktikan bahwa persahabatan intelektual mereka jauh lebih kokoh daripada sekadar kepentingan politik sesaat.
Ketakjuban Sang Proklamator pada Pendekar Pena
Di tengah dinamika kebangsaan yang kerap bergejolak, keberadaan ideologi pemersatu menjadi kunci keharmonisan. Bung Karno menggagas Pancasila pada 1 Juni 1945 agar bangsa Indonesia tidak terpecah belah, seperti yang pernah menimpa kekuasaan Muslim di Andalusia. Demi menjaga nyala gagasan tersebut, Soekarno selalu mengapresiasi pemikiran yang memperkuat eksistensi Pancasila.
Salah satu pemikiran yang memikat hati Sang Proklamator datang dari seorang tokoh Nahdlatul Ulama (NU) asal Tanah Abang, Mahbub Djunaidi. Melalui harian Duta Masyarakat, Mahbub menulis tajuk yang menyebut kedudukan Pancasila jauh lebih sublim ketimbang Declaration of Independence buatan Thomas Jefferson maupun Manifesto Komunis racikan Karl Marx.
Bung Karno membaca tulisan tersebut dan langsung takjub. Mahbub menyajikan argumen kebangsaan yang kokoh, namun tetap membalutnya dengan gaya yang jenaka. Ia memandang realitas sosial bangsa Indonesia dengan kearifan seorang sastrawan sekaligus ketajaman seorang jurnalis.
Dialog Jenaka di Istana Merdeka
Rasa penasaran mendorong Soekarno untuk bertemu langsung dengan penulis brilian tersebut. Sekitar tahun 1963, ia meminta Menteri Agama saat itu, KH Saifuddin Zuhri, membawa Mahbub ke Istana Merdeka.
Pertemuan perdana mereka berlangsung santai, jauh dari kesan kaku sebuah protokoler negara. KH Saifuddin Zuhri dalam bukunya mencatat momen jenaka tersebut.
“Ini yang namanya Mahbub Djunaidi?” tanya Bung Karno. “Iya, Pak,” jawab Mahbub. “Kok krempeng begini?” seloroh Bung Karno sambil menatap Mahbub dari atas ke bawah. Mahbub hanya bisa tersenyum lebar.
Obrolan berlanjut hingga membahas asal-usul keluarga Mahbub. Ketika mengetahui bahwa ayah Mahbub adalah Haji Muhammad Djunaidi, Kepala Biro Pengadilan Departemen Agama, Soekarno kembali terkejut dan tersenyum bangga.
“Loh, lho, lho… kalau begitu, bapakmu dulu yang menikahkan saya dengan Hartini di Istana Cipanas!” seru Bung Karno sambil menunjuk Mahbub. Sejak saat itu, hubungan keduanya menjadi lebih dari sekadar pemimpin dan rakyatnya; mereka menjadi teman diskusi yang akrab.
Sepiring Makan Siang di Tengah Prahara Politik
Hubungan baik mereka menghadapi ujian terberat pasca-peristiwa September 1965. Angin politik berubah arah. Memasuki tahun 1966, kekuasaan Soekarno meredup dan ia menjadi sosok yang kesepian. Banyak jenderal dan politisi yang dahulu mengelilinginya kini memilih menjaga jarak.
Dalam kesunyiannya sebagai tahanan kota di Wisma Yaso, Bung Karno menyampaikan satu permintaan sederhana kepada Mahbub: ia merindukan makan siang dan kongkow bersama kiai-kiai NU.
Menyelenggarakan makan siang untuk Soekarno pada masa itu membutuhkan nyali besar. Mahbub kesulitan mencari tuan rumah karena banyak orang ketakutan. Namun, keberanian akhirnya datang dari Tan Kiem Liong (Moh Hassan), seorang Tionghoa Muslim yang juga tokoh NU. Ia bersedia membuka pintu rumahnya di Kebayoran Baru untuk Sang Proklamator.
Kiai Wahab Chasbullah dan Kiai Bisri Syansuri turut hadir menemani makan siang tersebut. Mereka menyingkirkan rasa takut terhadap tekanan politik Orde Baru demi sebuah persahabatan dan nilai kemanusiaan.
Melalui esainya, Mahbub mengenang ironi yang menimpa Bung Karno:
“Siapakah yang bisa membayangkan: seorang penggerak dan pemersatu nation. Seorang musuh nomor satu kolonial, seorang proklamator tanah air yang begini besar… pada suatu saat menghadapi kesulitan minta makan siang bersama teman-temannya?” (Mahbub Djunaidi, Soekarnoisme: Suatu Ujian Sejarah).
Konsistensi Sikap Kritis Melintasi Zaman
Meskipun dekat dengan Istana, Mahbub tidak pernah melacurkan idealisnya. Ia tetap kritis terhadap kebijakan pemerintah, baik di era Soekarno maupun ketika Orde Baru mengambil alih kekuasaan.
Saat menjabat sebagai Ketua Umum Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat pada masa transisi kekuasaan yang ganas (1965-1970), Mahbub menunjukkan kelasnya. Jakob Oetama, yang saat itu menjabat sebagai Sekjen PWI, bersaksi mengenai kebijaksanaan Mahbub.
“Mahbub memimpin lembaga pers nasional menjelang peralihan rezim, fase paling genting di mana kuli tinta menjadi target utama pembersihan. Ia memilih jalan yang moderat dan manusiawi dalam menengahi perbedaan pandangan.” (Jakob Oetama).
Sikap kritis yang teguh pada prinsip ini akhirnya membawa Mahbub ke penjara Nirbaya bersama Bung Tomo pada dekade 1970-an karena mengkritik rezim Orde Baru. Ia membuktikan dirinya sebagai intelektual tulen yang “bersikap adil sejak dalam pikiran”.
Persahabatan Bung Karno dan Mahbub Djunaidi merangkum penggalan sejarah bangsa yang kaya makna. Di sana ada pertemuan antara gagasan besar, humor, empati, dan keberanian murni. Mahbub Djunaidi sang “Pendekar Pena” mengajarkan bahwa kesetiaan kepada sahabat tidak boleh luntur karena hilangnya kekuasaan, dan sikap kritis terhadap ketidakadilan harus tetap menyala meski harus dibayar dengan kebebasan.***
Daftar Pustaka
- MD, Isfandiari & Rasta, Iwan. (2017). BUNG: Memoar tentang Mahbub Djunaidi. Jakarta: Yayasan Pustaka Obor Indonesia.
- Zuhri, Saifuddin. (2013). Berangkat dari Pesantren. Yogyakarta: LKiS. (Hlm. 680).
- Redaksi Tebuireng. (1987). “Wawancara Mahbub Djunaidi”. Majalah Tebuireng Edisi Nomor XIV, Dhulqa’dah 1407 Hijriah.
- Djunaidi, Mahbub. Soekarnoisme: Suatu Ujian Sejarah (Esai).




Tinggalkan Balasan