Selama hampir empat abad, jutaan orang Jawa berpuasa pada hari weton mereka tanpa tahu bahwa para ilmuwan di Cambridge dan Tokyo tengah membuktikan sesuatu yang tidak jauh berbeda — menggunakan alat yang disebut kromosom dan laboratorium yang dingin.


KOSONGSATU.ID – Setiap orang Jawa lahir dengan “tanda waktu” ganda — hari dalam kalender Masehi dan hari dalam sistem panca wara-sapta wara Jawa. Kombinasi keduanya disebut weton.

Bagi jutaan orang, ia bukan sekadar data demografis. Weton adalah kompas spiritual yang menentukan ritme hidup, termasuk kapan harus berpuasa.

Yang menarik: para ilmuwan modern, tanpa pernah membaca Serat Centhini, sedang membuktikan sesuatu yang tidak jauh berbeda.

Dari Keraton ke Laboratorium

Akar puasa weton di tanah Jawa tidak bisa dilepaskan dari keputusan politik-spiritual Sultan Agung pada 1633 Masehi. Raja Mataram itu mengintegrasikan penanggalan Hijriah ke dalam Kalender Jawa — sebuah langkah yang bukan sekadar administratif, melainkan ideologis.

Hasilnya adalah sistem waktu hibrida yang memungkinkan Islam dan kearifan lokal berjalan beriringan, termasuk tradisi berpuasa pada hari kelahiran.

Serat Centhini, yang dikodifikasi awal abad ke-20, mendokumentasikan tiga varian praktik ini: puasa satu hari penuh di hari weton, puasa Apait selama tiga hari berturut-turut, dan puasa Ngebleng — 24 jam tanpa makan, minum, bahkan tidur.

Sosiolog Clifford Geertz dan Mark R. Woodward mengonfirmasi bahwa praktik ini dominan di Jawa Tengah, Yogyakarta, dan Jawa Timur, terutama di kalangan kelompok Abangan dan sebagian Santri.

Selama hampir empat abad, tradisi ini hidup tanpa butuh justifikasi ilmiah. Tapi justifikasi itu kini, perlahan, mulai datang sendiri.

Kronobiologi: Sains yang Menyebut Waktu Kelahiran Bukan Kebetulan

Pada 2017, Jeffrey Hall, Michael Rosbash, dan Michael Young menerima Nobel Fisiologi atas penemuan mekanisme molekuler jam sirkadian — jam biologis internal yang mengatur ritme tidur, metabolisme, hormon, dan imunitas. Temuan ini membuka jalan bagi cabang ilmu bernama kronobiologi.

Salah satu implikasi paling mengejutkan: waktu kelahiran memengaruhi konfigurasi jam biologis seseorang secara jangka panjang. Studi dari Universitas Vanderbilt yang dipublikasikan di Nature Neuroscience (2010)menemukan bahwa paparan cahaya saat lahir memengaruhi ritme sirkadian secara permanen.

Riset lanjutan pada manusia menunjukkan korelasi antara musim atau waktu kelahiran dengan pola tidur dan kerentanan terhadap gangguan metabolik tertentu.

Orang Jawa sudah lama percaya bahwa hari weton membawa “energi” spesifik yang berbeda dari hari lain. Kronobiologi belum membuktikan klaim metafisik itu — tapi ia membuktikan bahwa tubuh manusia memang tidak sepenuhnya acak terhadap waktu kelahirannya.

Neurosains Puasa: Apa yang Terjadi Saat Tubuh “Tirakat”

Masyarakat Jawa menyebut puasa weton sebagai tirakat batin — penyelarasan diri dengan semesta. Istilah ini terdengar mistis, namun mekanisme biologisnya kini terdokumentasi dengan baik.

Puasa intermiten mengaktifkan proses autofagi — pembuangan sel-sel rusak oleh tubuh secara mandiri. Yoshinori Ohsumi memenangkan Nobel 2016 atas penemuan mekanisme ini. Selain itu, pembatasan kalori dalam periode tertentu terbukti menurunkan kadar kortisol dan meningkatkan produksi BDNF (brain-derived neurotrophic factor), protein yang memperkuat koneksi antar-neuron.

Dalam konteks psikologis, puasa ritualistik — yang dilakukan dengan kesadaran penuh dan konteks spiritual — terbukti menghasilkan efek yang berbeda dibandingkan puasa biasa. Riset dari Journal of Behavioral Medicine (2019) mencatat bahwa puasa yang disertai niat dan makna spiritual menghasilkan penurunan kecemasan yang lebih signifikan dibanding puasa non-kontekstual.

Puasa Ngebleng — yang menggabungkan pantang makan, minum, dan tidur — secara biologis memang ekstrem. Namun, dari sudut pandang neurosains, deprivasi tidur singkat yang terkontrol dalam konteks ritual justru dilaporkan memicu kondisi altered state of consciousness, yang mendukung refleksi mendalam.

Ini bukan pembenaran medis, melainkan penjelasan mengapa praktik itu bisa terasa “bekerja” bagi pelakunya.

Kosmologi Jawa dan Psikologi Ritualisme

Di luar biologi, ada dimensi psikologi sosial yang tak kalah relevan. Kalender Jawa dengan sistem 35 hari (selapan) — hasil kombinasi siklus 5 hari dan 7 hari — menciptakan struktur waktu yang berulang secara teratur. Psikolog menyebut fenomena ini sebagai temporal landmark: titik waktu yang secara psikologis mendorong seseorang untuk melakukan refleksi dan reset perilaku.

Hengchen Dai dari Universitas Washington, dalam studinya tentang “fresh start effect” (Management Science, 2014), membuktikan bahwa manusia cenderung memulai kebiasaan baru atau melakukan evaluasi diri saat menghadapi penanda waktu yang bermakna — awal tahun, ulang tahun, atau hari spesial secara personal. Weton, yang berulang setiap 35 hari, secara struktural berfungsi persis seperti itu: sebuah anchor psikologis yang mendorong kontemplasi periodik.

Dalam budaya Jawa, kontemplasi ini diwujudkan dalam bentuk puasa. Dalam bahasa sains, ia adalah mekanisme regulasi diri yang terstruktur dan berulang.

Tradisi yang Belum Selesai Dibaca

Tentu, korelasi bukan kausalitas. Barangkali sains modern tidak sedang “membenarkan” sistem kepercayaan weton secara keseluruhan. Pasalnya, dimensi metafisik weton — soal nasib, peruntungan, kecocokan jodoh — berada di luar jangkauan laboratorium.

Namun, yang bisa dikatakan adalah: nenek moyang Jawa membangun sebuah sistem yang, tanpa alat ukur modern, berhasil mengidentifikasi pentingnya ritme waktu, penanda psikologis, dan praktik asketis periodik bagi keseimbangan manusia.

Sultan Agung pada 1633 mungkin tidak tahu apa itu kortisol. Tapi, ia tahu bahwa manusia butuh sistem untuk mengatur dirinya terhadap waktu.

Empat abad kemudian, para pemenang Nobel sedang membuktikan hal yang sama — dengan bahasa yang berbeda.***