Kedaulatan Narasi sebagai Tanda Peradaban
Said pernah menulis bahwa orientalisme bukan tentang kebencian, tapi tentang kekuasaan atas definisi. Selama kita tidak punya kekuasaan atas cara dunia mendefinisikan kita, maka kita masih hidup di bawah bayangan.
Karena itu, merebut narasi bukan perkara retorika — ia adalah syarat peradaban. Kita tak butuh menjadi Barat untuk menjadi modern.
Kita hanya perlu menjadi diri sendiri dengan keberanian penuh — menulis dengan pena kita, berpikir dengan bahasa kita, dan membayangkan masa depan dari tanah tempat kita berpijak.
Saat Singa Menulis Sejarah
Ada pepatah Afrika yang dikutip Said, “Selama singa belum punya sejarawan, kisah perburuan akan selalu memuliakan sang pemburu.”
Kini saatnya singa itu menulis.
Menulis bukan untuk membalas, tapi untuk mengingat dan menghidupkan kembali obor pengetahuan yang dulu pernah menerangi dunia — dari Baghdad ke Borobudur, dari Andalusia ke Aceh, dari Alexandria ke Giri Kedaton.
Karena dunia ini bukan milik satu mata angin. Dan mungkin, setelah berabad-abad redup, cahaya peradaban itu akan kembali terbit dari Timur.***




1 Komentar