Bung Karno menegaskan bahwa kemerdekaan hanyalah sebuah ‘jembatan emas’ yang menuntut fondasi mental dan identitas bangsa.


Oleh: Faried Wijdan | Penulis KosongSatu.ID

Bung Karno percaya bahwa tanpa jati diri yang kokoh, sebuah negara merdeka hanya akan menjadi bangsa peniru tanpa kedaulatan sejati.

​”Kita belum hidup dalam sinar bulan purnama, kita masih hidup di masa pancaroba. Tetaplah bersemangat elang rajawali!”

Melalui konsep Pancasila sebagai mutiara galian hingga pilar Trisakti, Sang Proklamator bukan sekadar membangun negara, melainkan menggali kembali jiwa bangsa yang terkubur kolonialisme.

Mari membedah dialektika pemikiran Bung Karno yang membawa identitas Indonesia dari kedalaman batin nusantara hingga menjadi solusi bagi tatanan dunia baru.

​Fondasi Internal: Menemukan Kembali “Jiwa” yang Terkubur

​Bung Karno percaya bahwa kolonialisme selama berabad-abad telah menimbun jati diri asli Indonesia. Tugas pertama kemerdekaan adalah menggali kembali jiwa tersebut agar kita tidak menjadi “bangsa kuli”.

​1. Pancasila: Bukan Ciptaan, Melainkan Galian

Bung Karno menolak disebut penemu Pancasila. Beliau memposisikan diri sebagai penyambung lidah rakyat yang menemukan kembali identitas yang telah lama ada.

​”Aku tidak mengatakan bahwa aku membuat Pancasila. Apa yang kukerjakan hanyalah menggali jauh ke dalam bumi kami, bumi Indonesia, dan hasil penggalianku itu adalah lima butir mutiara yang berharga.”

​2. Nation and Character Building

Membangun infrastruktur fisik tanpa membangun mentalitas adalah kesia-siaan. Beliau sangat membenci mentalitas bangsa yang merasa kerdil atau yang beliau sebut sebagai “Mentalitas Tempe”.

​”Bangunlah suatu dunia di mana semua bangsa hidup dalam damai dan persaudaraan. Bangunlah dunia di mana tidak ada eksploitasi manusia atas manusia lainnya (l’exploitation de l’homme par l’homme).”

​Untuk mencapai itu, Bung Karno mengingatkan pentingnya kesinambungan sejarah melalui Jasmerah:

​”Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah. Sejarah adalah guru kehidupan. Dengan memahami sejarah, kita akan memiliki harga diri nasional (national pride).”