Invasi AS dan Israel gagal menundukkan Iran dalam 48 jam. Ideologi dan mentalitas syahid membuat pertahanan Iran tetap kokoh.


KOSONGSATU. ID – Amerika Serikat dan Zionis Israel menghadapi jalan buntu dalam upaya mereka menundukkan Iran. Ketika kedua negara tersebut melancarkan serangan pada 28 Februari 2026 lalu, mereka sangat yakin Iran akan mengibarkan bendera putih dalam waktu 48 jam.

Faktanya, hampir satu bulan berlalu, Iran masih berdiri tegak dan perkasa.

​Target awal Donald Trump dan Benyamin Netanyahu untuk mengganti rezim penguasa kini dipastikan gagal total. Kegagalan ini memaksa Washington dan Tel Aviv sibuk merombak narasi.

Mereka terus mengubah alasan perang—mulai dari dalih menjaga keamanan kawasan Teluk dari ancaman nuklir Iran, ambisi menghancurkan instalasi nuklir, hingga dalih mengamankan Selat Hormuz. Semuanya terdengar tidak konsisten.

​Jika kita membedah fenomena ini melalui kacamata fikih klasik, Iran memiliki posisi yang unik. Negara ini secara resmi bernama Republik Islam Iran dan konsisten menjadikan syariat Islam (dengan dasar Islam Syiah) sebagai konstitusi negara.

Melalui sistem teo-demokrasi, kekuasaan tertinggi berada di tangan Pemimpin Tertinggi (Supreme Leader), meski negara tetap menjalankan mekanisme pemilu untuk memilih presiden dan anggota parlemen (Majlis).

Lalu, apa yang sebenarnya membuat Iran begitu kuat dan mustahil mereka jinakkan?

​Kita tidak perlu membandingkan metrik kekuatan militer, kalkulasi dukungan sekutu, atau kekuatan finansial. Dalam hitungan kertas, Iran jelas tertinggal.

Namun, Iran menyimpan “kekuatan tak kasat mata” yang membuat skenario AS dan Zionis Israel untuk menjadikannya negara boneka berujung sia-sia. Berikut adalah pilar-pilar kekuatan tersebut:

Ideologi Mengakar dan Kebanggaan Sejarah

​Pemerintah Iran berhasil menanamkan ideologi, prinsip syariat Islam, serta nilai bela negara ke seluruh nadi warganya. Semangat jihad menyala berkat perpaduan faktor agama dan sistem teokrasi yang mereka anut.

​Lebih dari itu, Iran mewarisi DNA peradaban besar. Kekaisaran Persia (550–330 SM) membentuk karakter bangsa yang sangat percaya diri dan pantang tunduk kepada bangsa manapun, apalagi kepada AS dan Israel—dua negara yang secara historis baru “seumur jagung”.