Iran siap tinggalkan meja perundingan dan hadapi Israel secara langsung — sementara Trump mengklaim gencatan senjata, Netanyahu menegaskan operasi militer terus berjalan.

KOSONGSATU.ID – Teheran mengeluarkan peringatan paling keras sejak konflik Lebanon pecah. Ketua Parlemen Iran sekaligus kepala negosiator nuklir, Mohammad Bagher Ghalibaf, menegaskan sikapnya usai berdiskusi dengan Nabih Berri, Ketua Parlemen Lebanon, Senin (1/6/2026).

“Saya menegaskan kepada saudara saya, Presiden Nabih Berri, bahwa jika agresi Israel terhadap Lebanon terus berlanjut, kami tidak hanya akan menghentikan jalur negosiasi, tetapi kami juga akan berkonfrontasi langsung dengan musuh,” tulis Ghalibaf di platform X.

Ancaman itu bukan sekadar retorika. Sehari sebelumnya, media pemerintah Iran melaporkan bahwa Teheran resmi menangguhkan pertukaran pesan dengan Washington, setelah AS menyerang infrastruktur militer Iran dan Israel terus menggempur Lebanon selatan.

Klaim Trump yang Langsung Dibantah Lapangan

Di sisi lain, Donald Trump tampil membawa kabar yang berlawanan. Di platform Truth Social, ia mengeklaim telah berbicara langsung dengan Netanyahu dan Hizbullah — dan keduanya sepakat menghentikan semua serangan.

“Saya melakukan percakapan yang sangat produktif dengan Perdana Menteri Bibi Netanyahu dari Israel, dan tidak akan ada pasukan yang dikirim ke Beirut,” tulis Trump. Ia juga mengeklaim Hizbullah setuju menghentikan seluruh penembakan.

Namun Netanyahu justru mengeluarkan pernyataan yang bertolak belakang: ia menegaskan kepada Trump bahwa operasi Pasukan Pertahanan Israel di Lebanon selatan “akan terus berjalan sesuai rencana.” Menteri Pertahanan Israel Israel Katz bahkan secara terbuka membantah adanya gencatan senjata.

Kenyataan di lapangan memperparah kontradiksi itu. Serangan udara Israel terus menghantam Lebanon selatan hanya beberapa jam setelah pengumuman Trump, memaksa ribuan warga kawasan Dahiyeh mengungsi.

Korban Terus Bertambah

Perang Lebanon yang dimulai 2 Maret 2026 ini telah menelan sedikitnya 3.371 jiwa di Lebanon per 1 Juni, berdasarkan data Al Jazeera.