Timur Tengah kembali membara. Iran menuding Amerika Serikat memegang peran kunci di balik serangan balasan rudal Israel, pada Ahad (7/6/2026). 


KOSONGSATU. ID – ​Pemerintah Iran secara terang-terangan menunjuk Amerika Serikat (AS) sebagai pihak yang paling bertanggung jawab atas berlanjutnya konflik dengan Israel. Teheran menilai setiap manuver militer Israel memiliki ikatan tak terpisahkan dengan kebijakan luar negeri Washington di kawasan tersebut.

​Tudingan Keras Terhadap Washington

​Iran meyakini bahwa Israel tidak mungkin bertindak sendiri. Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran, Esmaeil Baqaei, menegaskan hal ini dalam sebuah konferensi pers di Teheran. Melansir laporan kantor berita AFP pada Senin (8/6/2026), Baqaei menyatakan keraguannya atas kemandirian militer rezim Zionis tersebut.

​”Tanpa ragu, seperti yang saya katakan, tindakan rezim Zionis di kawasan ini tidak dapat dipisahkan dari kebijakan AS,” tegas Baqaei. Ia juga menambahkan, “Tidak ada yang percaya bahwa rezim Zionis akan melakukan tindakan apa pun tanpa koordinasi dan kerja sama sebelumnya dengan Amerika Serikat.”

​Pernyataan ini muncul sesaat setelah rentetan ledakan mengguncang tiga kota utama di Iran, termasuk ibu kota Teheran. Militer Israel mengklaim telah menggempur sejumlah target strategis di wilayah barat dan tengah Iran sebagai aksi pembalasan.

​Aksi Saling Balas dan Manuver Donald Trump

​Ketegangan ini bermula ketika Iran meluncurkan 11 rudal ke arah Israel pada Ahad (7/6). Israel, seperti dikutip dari AFP, mengklaim berhasil mencegat seluruh rudal tersebut tanpa menimbulkan korban jiwa. Namun, serangan balasan Israel pada Senin pagi justru menentang seruan Presiden AS, Donald Trump.

​Trump sebelumnya berusaha meredam ambisi Perdana Menteri Israel, Benjamin Netanyahu, agar tidak memperluas eskalasi. Jurnalis Axios, Barak Ravid, melaporkan percakapan telepon Trump yang berupaya mencegah serangan lanjutan.

​”Saya akan menelepon Bibi sekarang dan mengatakan kepadanya untuk tidak membalas. Israel telah melakukan serangannya dan Iran telah melakukan serangannya. Kita tidak membutuhkan serangan lain,” ujar Trump. Ravid kemudian memposting konfirmasi dari seorang pejabat AS bahwa Trump telah berbicara langsung dengan Netanyahu, meskipun pihak Gedung Putih belum memberikan komentar resmi.

​Merespons situasi yang kian tak menentu ini, Menteri Luar Negeri Inggris, Yvette Cooper, turut mendesak semua pihak menahan diri. Melalui media sosial X, ia mengingatkan bahwa kembalinya konflik terbuka tidak akan menguntungkan siapa pun dan mendorong agar diplomasi dikedepankan.

​Peringatan Keras Teheran Terkait Lebanon

​Di tengah situasi yang saling serang ini, Iran menetapkan syarat mutlak bagi perdamaian kawasan. Teheran bersikeras bahwa setiap kesepakatan damai harus mencakup penghentian konflik paralel yang menargetkan gerakan Hizbullah di Lebanon.

​Juru bicara Kementerian Luar Negeri Iran lainnya, Ali Safari, menguraikan lebih lanjut alasan di balik tindakan Teheran. Saat berbicara kepada stasiun televisi Al-Mayadeen, Safari menjelaskan bahwa serangan balik Iran bukan tanpa alasan.

​”Serangan Teheran itu terjadi setelah berminggu-minggu menahan diri terhadap agresi Israel,” tegas Safari.

​Senada dengan Safari, Garda Revolusi Iran menyebut serangan rudal mereka pada hari Minggu sebagai sebuah “peringatan”. Mereka merujuk pada gempuran Israel ke pinggiran selatan Beirut sebelumnya, dan secara terbuka mengancam akan meluncurkan serangan yang jauh lebih luas jika agresi Israel di wilayah tersebut terus berlanjut.

​Kawasan Timur Tengah kini berada di titik didih. Tudingan Iran terhadap keterlibatan langsung AS, ditambah keengganan Israel untuk menahan diri, memicu kekhawatiran global akan meletusnya perang regional berskala penuh. Selama komunitas internasional gagal menjembatani kesepakatan gencatan senjata di seluruh titik konflik, termasuk di Lebanon, maka kawasan ini akan terus diwarnai bayang-bayang eskalasi yang mematikan.***