Ia bercerita bahwa pada tahun itu, Indonesia sedang dilanda perpecahan politik yang hebat. Para elit politik dan ulama saling berselisih paham di tengah ancaman penjajah yang ingin kembali masuk. Atas saran KH Wahab Chasbullah, Bung Karno kemudian mengundang mereka semua ke Istana Bogor tepat pada 1 Syawal 1367 Hijriah.
“Di sanalah, tradisi Halal bihalal dan ucapan itu menjadi ‘senjata’ diplomasi. Bung Karno menggunakan momentum Idul Fitri untuk merangkul lawan-lawan politiknya yang tadinya enggan bertemu.
Jadi, kalimat itu bukan sekadar basa-basi, tapi sebuah jembatan untuk menyatukan kembali bangsa yang sempat retak. Di tahun 1948 itulah, Lebaran resmi menjadi alat pemersatu Republik.”
Melihat wajah Ra-hyang yang semakin serius, Rama membawa cerita lebih jauh ke masa lalu, melintasi samudera menuju tanah Arab di zaman Rasulullah SAW.
Rama menjelaskan bahwa sebelum Islam datang, masyarakat di Madinah dan kaum Quraisy sudah memiliki hari raya kegembiraan yang disebut Nairuz dan Mihrajan. Itu adalah hari-hari penuh pesta pora yang mereka warisi dari tradisi Persia.
“Ketika Rasulullah sampai di Madinah, beliau melihat para sahabatnya masih merayakan Nairuz. Beliau tidak lantas melarang mereka untuk bergembira,” Rama berkisah dengan nada lembut.
“Sebaliknya, Rasulullah bersabda bahwa Allah telah mengganti dua hari itu dengan yang lebih baik: Idul Fitri dan Idul Adha.
Beliau paham bahwa manusia, termasuk para sahabatnya, butuh hari untuk menghibur hati dan merayakan kehidupan. Maka Idul Fitri lahir sebagai bentuk ‘hiburan’ yang disucikan, di mana kegembiraan duniawi bertemu dengan syukur kepada Sang Pencipta.”
Sore itu, Ra-hyang belajar bahwa Lebaran adalah sebuah lapisan sejarah yang tebal. Ia adalah sisa-sisa kegembiraan kuno yang disucikan oleh agama, yang kemudian diracik menjadi alat diplomasi bangsa di tahun 1948, dan akhirnya bermuara pada kesederhanaan hati untuk saling memaafkan.
“Jadi,” simpul Rama sambil berdiri, “besok kalau kamu bersalaman, ingat ya, kamu sedang memegang sepotong sejarah bangsa kita, yang dirangkul oleh Islam.”
Ra-hyang tersenyum lebar. “Iya Rama. Sekarang, bolehkah sejarah ini kita lanjutkan dengan mencicip setoples nastar?”***




Tinggalkan Balasan