Kisah tentang seorang ayah menjelaskan makna Lebaran dari tradisi hingga sejarah 1948.
Oleh: Kai Rasa | Petani Kata-kata
KOSONGSATU. ID – Aroma bumbu opor dan rendang mulai merayap dari dapur, memenuhi ruang tengah tempat Ra-hyang sedang asyik membantu ayahnya menyusun stoples rengginang. Di tengah keriuhan persiapan itu, sebuah pertanyaan meluncur begitu saja dari bibir mungilnya.
“Rama,” panggil Ra-hyang. “Sebenarnya Lebaran itu apa sih? Kenapa semua orang jadi sibuk dan tiba-tiba saling minta maaf?”
Rama menghentikan kegiatannya, menyeka keringat di dahi, lalu tersenyum. Ia mengajak Ra-hyang duduk di teras depan, menikmati semilir angin sore sambil memulai sebuah dongeng sejarah yang tak ada di buku pelajaran sekolah.
Rama memulai dengan menjelaskan asal-usul kata “Lebaran” dari sudut pandang tradisi Betawi yang kental dengan filosofi Jawa.
“Begini, Ra-hyang. Bagi orang Betawi dan Jawa, Lebaran itu bukan sekadar makan-makan. Ada ‘Empat L’ di sana: Lebar, Lebur, Luber, dan Labur.”
Rama menjelaskan bahwa Lebar berarti pintu ampunan telah dibuka lebar-lebar. Lebur artinya dosa-dosa kita meleleh dan habis karena saling memaafkan. Luber bermakna rezeki dan pahala kita melimpah untuk dibagikan. Sedangkan Labur—berasal dari kata kapur yang putih—artinya hati kita kembali bersih dan putih seperti dinding yang baru dicat.
Ra-hyang mengangguk-angguk, namun ia teringat satu kalimat yang selalu diucapkan orang-orang: Minal ‘Aidin wal Faidzin. Ia bertanya apakah itu juga bagian dari tradisi ‘L’ tadi. Rama tertawa kecil.
“Nah, itu bagian yang menarik, Ra-hyang. Ucapan itu punya sejarah yang sangat politis di Indonesia, tepatnya pada 1948,” ujar Rama.
Ia bercerita bahwa pada tahun itu, Indonesia sedang dilanda perpecahan politik yang hebat. Para elit politik dan ulama saling berselisih paham di tengah ancaman penjajah yang ingin kembali masuk. Atas saran KH Wahab Chasbullah, Bung Karno kemudian mengundang mereka semua ke Istana Bogor tepat pada 1 Syawal 1367 Hijriah.
“Di sanalah, tradisi Halal bihalal dan ucapan itu menjadi ‘senjata’ diplomasi. Bung Karno menggunakan momentum Idul Fitri untuk merangkul lawan-lawan politiknya yang tadinya enggan bertemu.




Tinggalkan Balasan