Di tengah ancaman krisis pangan global, sekelompok pemuda dari Tarekat Shiddiqiyyah memilih menanam ubi ungu. Langkah berani menyelamatkan masa depan bangsa dari ketergantungan impor.
KOSONGSATU.ID—Di tengah kekhawatiran akan krisis pangan global dan bayang-bayang konflik geopolitik, Presiden Prabowo Subianto menempatkan ketahanan pangan sebagai prioritas nasional. Tujuannya jelas: swasembada pangan dan kesejahteraan petani.
Tapi, bukan hanya pemerintah yang bergerak. Organisasi Pemuda Shiddiqiyyah Front Ketuhanan Yang Maha Esa (OPSHID FKYME) dan Persaudaraan Cinta Tanah Air (PCTA) juga ikut turun tangan. Bukan dengan wacana, tapi dengan aksi nyata.
Lewat Program Ketahanan Pangan yang diluncurkan di Rakernas OPSHID 2025 di Jombang, kedua organisasi ini punya rencana yang cukup berani: menanam ubi ungu (uwi) minimal 10 hektare di setiap kabupaten/kota. Bagi mereka, kedaulatan pangan bukan sekadar soal makan, tapi tentang kemandirian bangsa.
“Ketergantungan kita pada pangan impor itu bikin rupiah lemah dan bikin kita rentan,” kata Ismu Mulyono, Ketua DPP OPSHID usai Rakernas.
Ia menyoroti bagaimana konflik Rusia-Ukraina berdampak pada krisis global, dari BBM sampai bahan makanan. Maka, Indonesia harus siap menghadapi segala kemungkinan, termasuk jika konflik besar terjadi.
Langkah awalnya? Menanam uwi. Bukan sembarang umbi, uwi ungu kaya karbohidrat, rendah gula, dan tahan disimpan langsung dalam tanah sampai dua tahun tanpa busuk.
“Enggak butuh pupuk sintetis, lebih tahan hama, dan panennya bisa tiap tiga bulan,” kata Izzul Hasin dari Departemen Ketahanan Pangan OPSHID.
Lebih dari itu, mereka juga ingin menghidupkan kembali budaya makan umbi yang sempat ditinggalkan sejak masa kolonial. “Beras itu baru populer sejak Jepang memperkenalkan sawah massal. Sebelumnya, nenek moyang kita makan umbi-umbian,” jelas Izzul.
Program ini sudah berjalan di sejumlah zona. Sekitar 4.000 sampai 5.000 pohon ubi ungu telah ditanam, dengan potensi panen hingga 30 ton per hektare. Jika diperluas secara nasional, jumlahnya bisa sangat signifikan.
Bagi OPSHID, ini bukan cuma soal pangan. Ini bagian dari misi besar: memenuhi kebutuhan dasar manusia—pangan, papan, dan sandang—dengan cara yang mandiri dan berkelanjutan. Karena dalam dunia yang makin tak pasti, ketahanan dimulai dari hal paling mendasar: apa yang kita tanam, dan apa yang kita makan.***




2 Komentar