Depresiasi juga meluas ke mata uang lainnya. Dolar Singapura (SGD) dijual Rp13.321,43, Ringgit Malaysia (MYR) dipatok Rp4.324,80, Yen Jepang (100 JPY) di Rp10.694,89, dan Baht Thailand (THB) menyentuh Rp534,74.

Pemicu: Konflik Timur Tengah dan Harga Minyak

Tekanan depresiasi menguat menyusul kepanikan investor global yang memburu dolar AS sebagai aset aman (safe haven). Ketegangan geopolitik di Timur Tengah, termasuk ancaman pemblokiran Selat Hormuz, memicu lonjakan harga minyak mentah dunia hingga di atas US$100 per barel.

Pada pembukaan perdagangan Senin (9/3/2026), rupiah sempat ambruk 0,64 persen ke posisi Rp17.015 per dolar AS. Pelemahan ini tidak dialami sendiri oleh Indonesia. Peso Filipina, Dolar Taiwan, dan Rupee India turut memimpin barisan pelemahan kurs regional.

Rentannya Negara Pengimpor Minyak

Tim Riset Ekonomi MUFG (Mitsubishi UFJ Financial Group) dalam laporan riset pasar Asia, Senin (9/3/2026), menyoroti kerentanan mata uang Asia. “Kerentanan mata uang Asia tersebut disebabkan oleh ketergantungan impor energi serta sensitivitas tinggi terhadap sentimen risiko global,” sebut tim riset MUFG.

Mereka menambahkan bahwa kenaikan harga minyak US$10 per barel dapat memperburuk posisi transaksi berjalan negara-negara Asia sekitar 0,2 persen hingga 0,9 persen dari PDB.

Ancaman Inflasi Impor

Pelemahan rupiah yang mendekati level Rp17.000 per dolar AS menjadi alarm bahaya bagi Indonesia. Mahalnya harga minyak dunia dipastikan akan menguras anggaran subsidi energi nasional.

Sektor industri manufaktur dan farmasi mulai tercekik karena biaya bahan baku impor meroket tajam. Kenaikan ongkos produksi ini bermuara pada ancaman imported inflation atau inflasi akibat barang impor. Jika ketidakpastian berlanjut tanpa intervensi kuat bank sentral, pertumbuhan ekonomi Asia Tenggara diprediksi menghadapi masa suram.***