KH. Baidlowi Lasem menyelamatkan bangsa lewat fatwa Waliyyul Amri adh-Dharuri bisy-Syaukah untuk melegitimasi kepemimpinan RI.
KOSONGSATU. ID – Fatwa visioner tersebut tidak lahir dari ruang hampa, melainkan dari kedalaman samudra ilmu yang ia timba selama puluhan tahun.
Keberanian KH. Baidlowi dalam mengambil keputusan politik yang menyelamatkan negara ini berakar kuat pada fondasi keulamaan yang kokoh, sebuah perjalanan panjang yang dimulai dari tanah kelahirannya hingga ke pusat peradaban Islam dunia.
Pasca-kemerdekaan Republik Indonesia, gejolak politik dan keamanan melanda Tanah Air. Salah satu ujian terbesar adalah perdebatan di kalangan umat Islam mengenai keabsahan kepemimpinan Presiden Soekarno. Di tengah situasi genting tersebut, sejarah mencatat nama KH. Baidlowi Lasem sebagai sosok penengah yang krusial.
Lahir di Lasem, Rembang pada 17 September 1880, KH. Baidlowi memiliki garis keturunan (nasab) yang istimewa. Darahnya bersambung ke Pangeran Sambo, Joko Tingkir, hingga ke marga Azmatkhan yang merupakan keturunan Rasulullah Saw. Sejak muda, ia rajin mengembara mencari ilmu dari Lasem, Sarang, Solo, hingga Makkah.
Kecerdasannya sangat menonjol. Saat belajar di Pesantren Jamsaren Solo, ia terkenal sebagai santri yang gemar tidur, tetapi selalu mampu menjawab pertanyaan rumit dengan tepat.
Puncak pencapaian intelektualnya terjadi di Makkah. Ia mendapat kepercayaan mengajar di Masjidil Haram dan meraih julukan Alamu al-Makkiyin (Ulama Besar Tanah Haramain).
Memecah Kebuntuan Status Soekarno
Konflik dalam negeri dan munculnya gerakan separatis memaksa para ulama Nahdlatul Ulama (NU) bermusyawarah mencari dasar hukum (hujjah) atas status kepemimpinan Soekarno. Perdebatan berjalan sangat alot dan berujung buntu (deadlock). Menghadapi situasi ini, KH. Abdul Wahab Chasbullah meminta pandangan KH. Baidlowi.
Dengan lugas dan tegas, ulama asal Lasem ini mengeluarkan pendapat yang memecah kebuntuan. Rais ‘Aam PBNU (2021-2026), KH. Miftachul Akhyar, menceritakan peristiwa bersejarah tersebut:
“Di hadapan para ulama, Kiai Baidlowi mengatakan, ‘Soekarno Huwa Waliyyul Amri Adl-Dloruri Bisy Syaukah (Soekarno, dia adalah Presiden RI yang sah karena darurat).'”
Keputusan ini langsung menyatukan pandangan ulama besar lainnya seperti Kiai Hasyim Asy’ari dan Kiai Bisri Syansuri. Gelar ini bukan sekadar legitimasi politik semata, melainkan sikap tegas mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI).
Pengasuh PP. Al-Anwar Sarang, KH. Muhammad Najih MZ, menegaskan makna di balik fatwa tersebut. “Dengan gelar Soekarno Huwa Waliyyul Amri adh-Dharuri bisy-Syaukah, sikap Mbah Baidlowi adalah menentang atau tidak setuju dengan adanya DI/TII, walaupun mereka menegakkan syari’at Islam di NKRI,” ungkapnya.
Ketawadukan Sang Mursyid Tarekat
Meskipun memegang peran kunci dalam sejarah bangsa, KH. Baidlowi tetap membumi dan menjauhi popularitas. Ia menjabat sebagai Rais Akbar pertama Jam’iyyah Ahlith Thoriqoh al Mu’tabarah (JATM) dan menguasai 27 aliran thariqah, termasuk Syatariyyah.
Cucunya, KH. Abdul Aziz, yang juga Pengasuh PP. Roudlotul Muhibbin Lasem, mengakui sifat rendah hati sang kakek. “Sebenarnya saya berat untuk menceritakan beliau karena beliau sosok yang tidak ingin dikenal atau terkenal, padahal beliau menjabat sebagai Rais ‘Aam JATM,” tuturnya.
Keikhlasan ini menjadi ciri khas dakwahnya. Pengasuh PP. An-Nur Lasem, KH. Abdul Qoyyum Manshur, memuji kepribadian sang tokoh. “Mbah Baidlowi ini terkenal dengan seorang faqih dan ahli syariah yang muhlish. Keikhlasan beliau ini ditunjukkan dengan perjalanan hidup dan interaksinya, baik vertikal kepada Allah maupun horizontal kepada sesama manusia,” jelas Kiai Qoyyum.
Mendorong Gelar Pahlawan Nasional
Masyarakat kini mulai merawat ingatan tentang jasa besar KH. Baidlowi. Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Dinarpus) Kabupaten Rembang gencar mengadakan bedah buku biografinya karya K. Amirul Ulum untuk memperkuat literasi lokal.
Kepala Dinarpus Rembang, Achmad Solchan, menyatakan komitmennya. “Perpustakaan daerah tidak hanya mengoleksi buku, tetapi juga menghidupkan kembali pemikiran tokoh-tokoh yang pernah memberi warna bagi sejarah Rembang dan Indonesia,” ujarnya. Momentum bedah buku ini sekaligus menjadi langkah awal diskursus publik untuk mengusulkan KH. Baidlowi sebagai Pahlawan Nasional.
KH. Baidlowi Lasem membuktikan bahwa ulama senantiasa hadir memberi arah kompas saat bangsa kehilangan navigasi. Keputusannya menetapkan Soekarno sebagai Waliyyul Amri adh-Dharuri bisy-Syaukah tidak hanya mengakhiri perdebatan fikih kenegaraan yang pelik, tetapi juga menyelamatkan keutuhan Republik Indonesia dari jurang perpecahan. Warisan pemikiran, ketawadhuan, dan nasionalismenya akan terus hidup sebagai inspirasi abadi bagi generasi penerus bangsa.***
Daftar Pustaka:
- Ulum, K. Amirul. KH. Baidlowi Lasem: Pencetus Gelar Soekarno Huwa Waliyyul Amri adh-Dhoruri bisy-Syaukah. (Buku Biografi).
- Arsip Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Dinarpus) Kabupaten Rembang terkait Diskusi Bedah Buku Biografi KH. Baidlowi Lasem.
- Kutipan wawancara/pernyataan tokoh agama (KH. Miftachul Akhyar, KH. Muhammad Najih MZ, KH. Abdul Qoyyum Manshur, KH. Ahfas Faishol, KH. Abdul Aziz) berdasarkan kompilasi data sejarah lokal Lasem.






Tinggalkan Balasan