Petani Sunda mengusir hama dari sawah dengan sebilah bambu mungil. Sains modern akhirnya mengejar — meski lewat jalan yang berbeda.


KOSONGSATU.ID — Di hamparan sawah Tatar Sunda, petani dahulu menabuh sebilah bambu kecil bernama karinding. Suaranya mirip kodok bersahutan setelah hujan. Tikus menjauh, wereng terganggu, burung pipit enggan mendekat. Tanaman padi pun selamat.

Praktik ini terdokumentasi dalam tradisi agraris Sunda berabad-abad. Naskah Pendakian Sri Ajnyana abad ke-16 sudah mencatat keberadaan karinding. Para petani memainkannya sambil menunggui sawah, bersahutan dari satu bukit ke bukit lain.

Sains Modern Membenarkan Prinsipnya

Penelitian kontemporer mengonfirmasi bahwa hama memang dapat diusir dengan gelombang suara. Studi Wijanarko dan rekan (2017) di Politeknik Negeri Jember menemukan tikus mengalami stres, kebingungan, dan menghentikan aktivitas makan ketika terpapar gelombang 50 kilohertz. 

Riset Mansyur dan tim (2009) di Universitas Wijaya Kusuma Surabaya mencatat frekuensi 86 kilohertz mampu mematikan 78 persen jentik nyamuk dalam paparan satu jam.

Penelitian-penelitian itu mengukuhkan prinsip dasar: serangga dan hewan pengerat memiliki sistem pendengaran yang dapat dikacaukan oleh gelombang suara tertentu. Karinding, dengan caranya sendiri, sudah menerapkan prinsip ini jauh sebelum istilah “akustik biologis” lahir.

Karinding bukan sekadar alat musik tradisional Sunda. Leluhur kita menciptakannya sebagai teknologi ultrasonik pengusir hama pertanian yang ampuh secara ilmiah. ISTIMEWA

Tapi Berhenti Menyebutnya Ultrasonik

Di sinilah letak masalahnya. Banyak artikel populer mengklaim karinding bekerja karena memancarkan gelombang ultrasonik. Klaim ini keliru secara fisis.

Ultrasonik adalah suara berfrekuensi di atas 20 kilohertz — di luar batas pendengaran manusia. Jika karinding benar ultrasonik, telinga Anda tak akan menangkap suaranya sama sekali. Faktanya, getaran karinding terdengar jelas, bahkan dapat memancing emosi pendengarnya.

Studi akustik jaw harp — keluarga instrumen yang menaungi karinding — menunjukkan frekuensi fundamentalnya berkisar 58 hingga 200 Hz, dengan harmonik yang tetap berada dalam rentang dengar manusia. Penelitian Wijanarko dan Mansyur memang mengukur frekuensi tinggi, namun menggunakan transduser piezoelektrik elektronik, bukan pelepah aren atau bambu.

Lalu Bagaimana Sebenarnya Karinding Bekerja?

Mekanisme yang lebih masuk akal terletak pada karakter bunyinya, bukan tingginya frekuensi. Karinding menghasilkan denyut ritmis dengan harmonik kompleks yang sangat mirip suara serangga lapangan — jangkrik, wereng, belalang. Bagi predator dan pesaing teritorial, suara ini ambigu dan mengganggu orientasi akustik mereka.

Tambahkan faktor sosial: petani memainkannya bersahutan dari berbagai titik. Medan suara yang dihasilkan menutupi area sawah secara luas, membuat hama kehilangan rasa aman dan menjauh.

Kerancuan “Low Decibel”

Sumber kesalahpahaman ultrasonik berakar pada satu istilah yang sering disalahgunakan: low decibel. Banyak tulisan menyebut karinding bersuara low decibel lalu menyimpulkan itu sama dengan ultrasonik. Dua istilah ini berbeda jagat.

Decibel mengukur intensitas — seberapa keras suara terdengar. Hertz mengukur frekuensi — seberapa cepat gelombang bergetar. Bisikan adalah suara low decibel yang masih audible. Sementara ultrasonik bisa dipancarkan dengan intensitas tinggi namun tetap tak terdengar karena frekuensinya melampaui ambang manusia.

Yang Tetap Mengagumkan

Tanpa label sains palsu pun, karinding sudah cukup brilian. Petani Sunda menciptakan satu instrumen yang menjalankan empat fungsi sekaligus: pengusir hama, teman sunyi di sawah, sarana ritual, dan alat sosial. Desain holistik semacam ini jarang ditemukan bahkan dalam teknologi pertanian modern.

Maka berhentilah memalsukan karinding sebagai “teknologi ultrasonik leluhur.” Justru ketika kita meluruskan miskonsepsinya, nilai sesungguhnya tampak lebih jelas: kearifan agraris Nusantara tidak butuh dibungkus jargon sains keliru untuk membuktikan kecerdasannya. Yang ia butuhkan adalah pembaca yang mau melihatnya apa adanya.***


Daftar Referensi

  • Agus, et al. (Tahun tidak disebutkan). Penelitian Penggunaan Gelombang Ultrasonik untuk Mengendalikan Burung Pipit.
  • Agusdian, et al. (Tahun tidak disebutkan). Penelitian Penggunaan Gelombang Ultrasonik untuk Mengendalikan Hama Wereng.
  • Andrade & Cabrini. (2010). Studi Penggunaan Alat Pengusir Nyamuk Komersial.
  • Hadiyarti, T. (2015, Februari 11). PDBI Alat Musik. Retrieved from PDBI: https://budaya-indonesia.org/karinding-1/
  • Kadafi, H. (2018, April 3). Takaitu History. Retrieved from Takaitu: http://takaitu.com/mengenal-lebih-dalam-karinding-alat-musik-tradisional-sunda-yang-lebih-tua-dari-gamelan/
  • (Tahun tidak disebutkan). Penelitian Rentang Frekuensi Ultrasonik terhadap Kecoa dan Nyamuk.
  • Mansyur, et al. (Tahun tidak disebutkan). Optimasi Frekuensi Gelombang Ultrasonik untuk Membunuh Jentik Nyamuk.
  • Wijanarko, et al. (Tahun tidak disebutkan). Penelitian Perilaku Tikus Terhadap Frekuensi Ultrasonik.