Gelombang protes hantam OpenAI usai teken kontrak rahasia dengan Pentagon


KOSONGSATU.ID—​Langkah diam-diam OpenAI mengambil alih kontrak Departemen Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon) berujung petaka. Keputusan perusahaan kecerdasan buatan tersebut memicu boikot masif dari penggunanya.

Gelombang penolakan ini bukan sekadar riak kecil di media sosial, melainkan badai nyata yang langsung mengancam reputasi raksasa teknologi tersebut.

​Semua bermula pada Jumat malam waktu AS, 28 Februari 2026. OpenAI yang dipimpin oleh Sam Altman secara senyap menandatangani kesepakatan dengan Pentagon. Mereka setuju mengimplementasikan model AI ke dalam jaringan rahasia pemerintah.

Kontrak ini disepakati hanya beberapa jam setelah kompetitor utamanya, Anthropic, menolak tawaran serupa. Anthropic mundur karena khawatir teknologi mereka disalahgunakan untuk pengawasan massal dan senjata otonom mematikan.

​Manuver mendadak ini langsung memicu ledakan kemarahan publik, terutama dari kelompok progresif. Sentimen negatif semakin liar mengingat rekam jejak kedekatan eksekutif OpenAI dengan pemerintahan Donald Trump.

Laporan sebelumnya mengungkap Presiden OpenAI, Greg Brockman, mendonasikan USD25 juta ke Super PAC pro-Trump. Sementara itu, Sam Altman menyumbang $1 juta untuk dana inagurasi, dan lembaga Imigrasi (ICE) menggunakan ChatGPT sebagai penyaring resume.

​Gerakan QuitGPT dan Dampaknya

​Memasuki 1 Maret 2026, protes pecah dan terorganisir dengan cepat. Sebuah kelompok akar rumput meluncurkan kampanye bernama “QuitGPT” melalui platform Reddit, X, dan Threads. Mereka mengajak publik membatalkan langganan ChatGPT dan beralih ke pesaing seperti Claude.

​”ChatGPT adalah chatbot terbesar di dunia, tetapi keuntungan itu rapuh. ChatGPT telah kehilangan pangsa pasar,” sebut pernyataan resmi kampanye QuitGPT yang dilansir oleh Common Dreams pada 2 Maret 2026. “Pengguna ChatGPT cenderung muda dan progresif, dan banyak yang tidak tahu tentang alternatif lain. Kita bisa mendorong OpenAI ke tepi jurang.”

​Seruan boikot ini mendulang sukses besar. Data internal pelacakan situs QuitGPT yang dilaporkan The Business Standard dan Times of India menyebutkan 1,5 juta hingga 2,5 juta pengguna mengklaim telah membatalkan langganan.

Lembaga intelijen pasar Sensor Tower turut mencatat lonjakan angka penghapusan (uninstall) aplikasi ChatGPT sebesar 295 persen pada Sabtu, 28 Februari 2026.

​Menghadapi krisis hubungan masyarakat ini, CEO OpenAI akhirnya angkat bicara. “Kami seharusnya tidak terburu-buru merilis ini pada hari Jumat. Isu-isunya sangat kompleks dan menuntut komunikasi yang jelas,” tulis Sam Altman di media sosial pada 4 Maret 2026.

​Kemarahan publik tampaknya sulit dipadamkan dalam waktu singkat. Alfred Steven, pengembang perangkat lunak dan mantan pengguna ChatGPT Plus, memberikan respons tajam saat ditanya alasannya berhenti berlangganan.

“Jangan dukung rezim fasis,” tegasnya pada 5 Maret 2026. Angka boikot ini memang kecil dibanding 900 juta pengguna aktif mingguan OpenAI, namun hilangnya persepsi netralitas menjadi pukulan telak yang sulit disembuhkan.***