Komando militer AS ketahuan memakai AI Anthropic di Iran sesaat setelah dilarang Donald Trump.


KOSONGSATU.ID–​Amerika Serikat terperangkap dalam sebuah ironi besar, yang secara gamblang membongkar ketergantungan pertahanan mereka pada teknologi swasta.

Hanya selang beberapa jam setelah Presiden Donald Trump melarang penggunaan teknologi kecerdasan buatan (AI) dari Anthropic, Komando Pusat AS (CENTCOM) justru masih menggunakan sistem tersebut.

Fakta di lapangan menunjukkan bahwa militer mengandalkan Claude, model AI buatan Anthropic, untuk mengeksekusi rentetan serangan udara skala besar ke wilayah Iran pada rentang waktu 28 Februari hingga 1 Maret 2026.

​Ketergantungan ini terkuak setelah investigasi kolaboratif dipublikasikan ke publik. Laporan investigasi The Wall Street Journal (WSJ) dan Axios yang terbit pada 1 Maret 2026, dan dikutip ulang oleh The Guardian, merinci secara spesifik bagaimana militer AS secara aktif memanfaatkan AI di medan tempur.

“Komando militer AS menggunakan alat tersebut [Anthropic Claude] untuk keperluan evaluasi intelijen, identifikasi target, dan untuk melakukan simulasi skenario pertempuran,” sebut laporan WSJ.

Hal ini membuktikan bahwa infrastruktur kecerdasan buatan kelas atas tidak bisa dicabut secara mendadak layaknya mencabut steker listrik.

​Dominasi Anthropic di dalam sistem pertahanan memang sudah mengakar kuat. Sejak Juni 2024, perusahaan ini memegang nilai kontrak fantastis hingga USD200 juta dengan Pentagon. Mereka bertugas menyediakan kapabilitas AI canggih di jaringan rahasia pemerintah.

Pada saat larangan keras dijatuhkan oleh pemerintah, Claude merupakan satu-satunya model AI terdepan yang terintegrasi secara penuh di dalam jaringan rahasia militer dan intelijen Amerika Serikat, termasuk fasilitas krusial milik CIA dan NSA.

​Benturan Batasan Etis

​Akar masalah dari drama pelarangan ini sejatinya bermula dari benturan prinsip antara korporasi dan militer. Anthropic secara konsisten menolak tuntutan Pentagon yang menginginkan hak akses AI tanpa batas. Perusahaan ini bersikeras memegang teguh pedoman “garis merah” etis mereka.

Dalam aturan perusahaan, AI dilarang keras digunakan untuk aktivitas pengawasan massal terhadap warga sipil domestik. Lebih jauh lagi, AI tidak diizinkan untuk mengoperasikan persenjataan otonom penuh tanpa adanya kendali langsung dari manusia.

​Sikap tegas ini memicu reaksi keras dari jajaran kabinet. Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, sempat memanggil CEO Anthropic, Dario Amodei, pada 24 Februari 2026. Hegseth memberikan batas waktu ultimatum hingga 27 Februari untuk segera mencabut semua pembatasan AI tersebut.

Namun, Anthropic memilih untuk mempertahankan prinsip mereka dan menolak ultimatum tersebut menjelang malam hari di tanggal yang sama.

​Buntut dari penolakan ini, Presiden Donald Trump turun tangan langsung dan memerintahkan seluruh agen federal menghentikan pemakaian Anthropic. Menhan Hegseth bahkan menyematkan label risiko keamanan nasional kepada perusahaan tersebut.

​Dario Amodei merespons keras tindakan pemerintah tersebut. “Kami memiliki dua garis merah ini. Kami telah memilikinya sejak hari pertama. Kami tidak akan bergeser dari garis merah tersebut. Kekecewaan ini terasa sangat menghukum dan bersifat balasan, mengingat banyaknya hal yang telah kami lakukan untuk keamanan nasional AS,” tegas Amodei, dalam wawancara eksklusif bersama CBS News pada 1 Maret 2026.***