Selat Hormuz memegang peran krusial bagi ekonomi global. Ancaman pemutusan kabel optik oleh Iran bisa melumpuhkan internet dunia.


KOSONGSATU. ID– ​Selat Hormuz ternyata bukan sekadar perairan biasa. Kawasan yang membatasi Iran dan Uni Emirat Arab ini bertindak sebagai urat nadi perekonomian dunia. Jika jalur ini sampai lumpuh, dampaknya akan langsung menghantam aktivitas ekonomi negara-negara Timur Tengah hingga seluruh penjuru bumi.

​Menanggapi memanasnya situasi geopolitik saat ini, pengusaha sekaligus kreator konten Mardigu Wowiek Prasantyo memberikan analisisnya. Pria yang akrab disapa Bossman Mardigu ini menilai, konflik antara Iran yang menghadapi gempuran Amerika Serikat (AS) dan Israel berjalan sangat timpang.

Ia menyebut kolaborasi AS dan Israel tersebut melahirkan sebuah perang asimetris.

​”Misalnya, serangan rudal dibalas dengan rudal, itu perang simetris. Nah, ini jelas perang asimetris,” terang Mardigu, mengutip dari kanal Youtube @sontoloyopeople pada Jumat (6/3/2026).

​Mardigu memandang Iran mengambil langkah yang cukup cerdik dalam menghadapi tekanan tersebut. Mereka menargetkan sejumlah bandara di Timur Tengah untuk melemahkan perputaran ekonomi global.

Strategi ini sengaja mereka buat untuk memicu lonjakan harga minyak dan menciptakan krisis ekonomi berskala luas.

​”Dengan harapan, perekonomian Amerika bakal terguncang hebat,” tambah Mardigu.

​Ancaman Kelumpuhan Transaksi Keuangan Global

​Lebih jauh lagi, krisis ini mengancam Selat Hormuz yang selama ini berfungsi sebagai pusat keuangan (hub finance) global.

Jalur perairan tersebut menyimpan infrastruktur yang sangat vital, yakni kabel serat optik bawah laut yang menghubungkan transaksi Timur Tengah dengan dunia internasional.

​”Kawasan teluk merupakan hub finance global, tersimpan kabel serat optik di Selat Hormuz. Ini menyangkut 40 persen transaksi keuangan dunia yang melewati Selat Hormuz,” imbuhnya.

​Akibatnya, jika ketegangan terus memuncak dan memengaruhi infrastruktur di Selat Hormuz, aliran transaksi keuangan global akan langsung tersendat.

Kehancuran sistem keuangan lintas negara bahkan bisa terjadi dalam hitungan detik apabila Iran benar-benar mengeksekusi rencana ekstremnya.

​Kiamat Digital dan Ancaman Matinya QRIS

​Skenario terburuk membayangi sektor perekonomian digital. Rencana pemotongan kabel serat optik oleh Iran bisa mematikan aktivitas jual beli masyarakat sehari-hari, termasuk di Indonesia.

​”Rencananya Iran akan memotong kabel optik di Selat Hormz tersebut. Bisa kacau kalau terjadi, transaksi keuangan sedunia mati. Mendadak QRIS (Quick Response Code Indonesian Standard) kita enggak bisa jalan.

Transaksi online juga enggak jalan. Mendadak bisnis menggunakan sosial media, enggak jalan,” tegas Mardigu.

Dunia Digital di Ambang Krisis

​Analisis Mardigu memetakan bahaya nyata yang ada di depan mata. Ketika Iran memutus kabel internet bawah laut di perairan tersebut, hampir separuh aktivitas digital dunia akan mengalami kelumpuhan parah.

Koneksi internet akan melambat drastis, sehingga masyarakat tidak bisa mengakses kecerdasan buatan (AI), YouTube, layanan perbankan, hingga komputasi awan (cloud).

Pada akhirnya, krisis geopolitik ini tidak hanya mengancam keamanan wilayah, tetapi juga siap menghancurkan mata pencaharian jutaan orang yang kini sepenuhnya bergantung pada ekosistem digital.***