Di balik gemuruh proklamasi, ada doa para ulama yang meretas jalan kemerdekaan dalam sunyinya malam Pagentongan.


KOSONGSATU.ID – Malam merayap pelan di Cileungsi, Bogor. Tepat pada Kamis malam, 5 Februari 1945 pukul 22.20 WIB, sebuah pertemuan penting nan rahasia berlangsung di kediaman KH Raden Amir Hamzah. Kelak, sejarah mencatat momen ini sebagai salah satu fondasi spiritual kemerdekaan Republik Indonesia.

Dokumen Pertemuan Abah Falak dan Soekarno sebelum Proklamasi Kemerdekaan RI, tepatnya pada malam Kamis pukul 22.20, tanggal 5 Februari 1945, di Cileungsi, Bogor. Pertemuan berlangsung di kediaman KH Raden Amir Hamzah ulama Cilengsi kelahiran 1901 dan wafat 1982.- Dok. Dzikrus Shalihin, dari FB Gus Ubaidillah Ahmad Pagentongan Bogor

Ir. Soekarno hadir di sana, duduk membaur bersama puluhan ulama dan jawara kharismatik dari berbagai penjuru Nusantara. Tokoh-tokoh besar seperti Kiai Nur Ali dari Bekasi, Kiai Darif dari Klender, hingga tokoh pergerakan Kartosuwiryo turut berembuk dalam satu majelis.

Pertemuan ini membuka tabir betapa eratnya hubungan Sang Proklamator dengan kaum sarungan, khususnya dengan sosok ulama kharismatik asal Pagentongan, KH Tubagus Muhamad Falak atau yang akrab tersapa Abah Falak.

Tamu Malam Berkereta Kuda di Pagentongan

Soekarno sangat menaruh hormat kepada Abah Falak. Ketokohan sang kiai—yang lahir pada 1842 di Pandeglang—tidak hanya berkibar lewat penguasaannya pada ilmu falak dan posisinya sebagai mursyid tarekat, tetapi juga lewat nyala nasionalismenya yang pantang padam.

Kedekatan dua tokoh ini terbukti dari intensitas kunjungan Soekarno ke Pondok Pesantren Al-Falak di Pagentongan, Bogor. Uniknya, Sang Singa Podium seolah membuang atribut kebesarannya setiap kali berkunjung. Ia pantang datang siang hari dan selalu memilih pekatnya malam untuk menemui sang guru.

Deden Solahudin, cicit dari Mama Falak, membenarkan rutinitas senyap tersebut.

“Bung Karno yang ketika itu tinggal di Istana Bogor datang ke Pesantren Al Falak dan biasanya datang pada malam hari, kadang menggunakan motor besar atau naik kuda untuk bertemu Abah,” ungkap Deden.

Kesaksian serupa meluncur dari cucu Abah Falak, Tubagus Rahmatulloh. Ia mencatat bahwa Bung Karno sering datang nyaris tengah malam demi berdiskusi empat mata.

“Bung Karno biasanya datang di atas pukul 23.00 WIB atau di atas pukul 01.00 WIB malam. Kalau lagi nggak pakai mobil, terkadang ia datang naik delman ke sini agar bisa ketemu sama Abah,” jelasnya.

Meminta Nasihat Kemerdekaan hingga Firasat Kejatuhan

Kedatangan Soekarno ke Pagentongan bukan sekadar silaturahmi biasa. Ia kerap meminta masukan terkait arah perjuangan bangsa, bahkan menanyakan hal-hal spesifik seperti penentuan awal bulan suci Ramadhan.

Lebih dari itu, pondok pesantren asuhan Abah Falak ini menjelma menjadi ruang konsolidasi spiritual. Para ulama menjadikan tempat ini sebagai titik kumpul untuk menggelar rapat darurat sebelum proklamasi berkumandang, merumuskan langkah paling tepat untuk membebaskan bangsa dari belenggu penjajah.

“Jadi para ulama itu berkumpul bersama Abah di sini untuk mendorong secara spiritual terhadap kemerdekaan Indonesia. Tapi sayangnya hal ini tidak banyak masuk dalam sejarah karena tidak banyak yang tahu saat itu,” tambah Tubagus Rahmatulloh.

Seiring berjalannya waktu, hubungan batin antara umara dan ulama ini semakin teruji. Menjelang akhir masa kekuasaannya yang penuh gejolak pada pertengahan 1960-an, Abah Falak kabarnya sempat memberikan sanepan atau isyarat halus kepada Soekarno. Sang kiai seolah sudah membaca awan gelap krisis politik yang akan menimpa Indonesia, mengingatkan Sang Proklamator untuk senantiasa mawas diri.

Warisan Kemerdekaan dari Bilik Pesantren

Abah Falak memang tidak memanggul senjata di garis depan. Namun, kharisma dan komandonya menggerakkan ribuan santri untuk bergabung dengan PETA, Heiho, Laskar Hizbullah, hingga Sabilillah. Saat masa revolusi fisik bergejolak, Pesantren Pagentongan berdiri tegak sebagai markas perjuangan mempertahankan wilayah Bogor dari gempuran tentara NICA.

Sang kiai ulung tersebut mengembuskan napas terakhirnya pada 19 Juli 1972 di usia 130 tahun yang sangat berkah.

Kemerdekaan Indonesia bukanlah hadiah dari penjajah, melainkan buah manis dari tetesan keringat pejuang di medan tempur dan lantunan doa para ulama di sepertiga malam. Jejak langkah Soekarno di lorong-lorong gelap Pagentongan menjadi pengingat abadi bagi kita hari ini: bahwa kekuatan politik sebesar apa pun, dan wibawa pemimpin setinggi apa pun, selalu membutuhkan pijakan spiritual yang kokoh dari para ulama yang ikhlas.***


Daftar Rujukan:

  • Lubis, Nina Herlina. (2011). Sejarah Perkembangan Islam di Jawa Barat. Bandung: Yayasan Masyarakat Sejarawan Indonesia Cabang Jawa Barat. (Hal. 49, 105, 160).
  • Dokumen Sejarah Pertemuan Cileungsi, 5 Februari 1945 (Catatan Kehadiran Tokoh Pergerakan dan Ulama).
  • Hasil Wawancara Deden Solahudin (Cicit KH Tubagus Muhamad Falak) dan Tubagus Rahmatulloh (Cucu KH Tubagus Muhamad Falak).
  • Catatan Sejarah Pesantren Pagentongan Bogor dalam Jejak Sejarah Islam Bogor.
  • Ubaidillah Ahmad, Catatan Dzikrus Shalihin mengenai Biografi Abah Falak.