Teheran tegas menolak perundingan nuklir usai merasa dikhianati dua kali oleh serangan Washington.
KOSONGSATU.ID–Pemerintah Republik Islam Iran secara resmi menutup seluruh pintu diplomasi dan perundingan nuklir dengan Amerika Serikat. Keputusan sangat tegas ini diambil setelah Teheran merasa dikhianati sebanyak dua kali dalam proses negosiasi damai yang sedang berlangsung.
Kegagalan diplomasi ini pada akhirnya berujung pada invasi militer mematikan yang menghancurkan fasilitas strategis Iran dan menewaskan puluhan pejabat tinggi negara tersebut.
Sikap keras Teheran bukan muncul tanpa alasan yang mendasar. Pada dua periode yang sangat krusial, yakni pertengahan tahun 2025 dan awal tahun 2026, Iran sebenarnya tengah menjalin komunikasi intensif dengan Washington. Perundingan tingkat tinggi yang bersifat tidak langsung ini secara khusus difasilitasi oleh pemerintah Oman.
Namun, di saat draf kesepakatan damai dilaporkan sudah berada di depan mata, Amerika Serikat bersama Israel justru melancarkan serangan udara berskala masif.
Serangan militer yang dilakukan tepat di tengah proses perundingan ini menghancurkan rasa saling percaya antarnegara secara permanen.
Faksi garis keras di lingkungan pemerintahan Teheran kini mengambil alih kendali penuh. Mereka menyatakan penolakan mutlak terhadap segala bentuk gencatan senjata di masa mendatang.
Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, pada 5 hingga 6 Maret 2026, menegaskan negaranya tidak lagi melihat relevansi dari sebuah perundingan dengan pihak Barat.
”Kami tidak meminta gencatan senjata. Kami tidak melihat alasan mengapa kami harus bernegosiasi ketika kami telah bernegosiasi dengan mereka dua kali, dan setiap kalinya mereka menyerang kami di tengah negosiasi,” ujar Araghchi dalam wawancaranya bersama jaringan televisi NBC News.
Mengingat Kembali Dua Tragedi Pengkhianatan
Sejarah kelam diplomasi ini bermula pada putaran pertama perundingan bulan April hingga Mei 2025. Saat itu, utusan khusus Amerika Serikat, Steve Witkoff, memimpin komunikasi via Muscat.
Ketika proses menunjukkan sinyal sangat positif, militer Israel dan AS mendadak menggempur fasilitas nuklir Natanz dan Fordow pada rentang 13 hingga 22 Juni 2025. Serangan mematikan ini memicu pecahnya konflik yang dikenal sebagai Perang 12 Hari.
Meski sempat diselimuti trauma pengkhianatan, Iran bersedia kembali duduk di meja perundingan pada Februari 2026. Pada tanggal 28 Februari 2026 pagi, Oman mengumumkan bahwa Iran telah menyetujui komitmen krusial untuk tidak menumpuk uranium tingkat senjata.
Nahasnya, hanya dalam hitungan beberapa jam setelah pengumuman tersebut, pengkhianatan kedua meletus. Pada malam hari di tanggal 28 Februari 2026, gempuran gabungan AS dan Israel meluluhlantakkan sisa fasilitas nuklir Iran. Tragedi ini menewaskan sekitar 40 pejabat senior Iran, termasuk Pemimpin Spiritual Tertinggi Ayatollah Ali Khamenei.
Kini, di bawah kepemimpinan Mojtaba Khamenei, Iran memilih jalur perlawanan terbuka. Rentetan serangan balasan telah diluncurkan ke berbagai fasilitas proksi Amerika Serikat. Kekosongan jalur diplomasi ini memastikan eskalasi perang terus meluas tanpa ada strategi jalan keluar yang jelas.*




Tinggalkan Balasan