​Raksasa teknologi berlomba memproduksi cip 6G jelang komersialisasi dekade ini.


KOSONGSATU.ID–​Perlombaan pengembangan jaringan generasi keenam atau 6G memasuki fase krusial pada awal tahun 2026. Sejumlah raksasa teknologi global mulai mengalihkan fokus dari sekadar perumusan konsep teoretis menuju penciptaan perangkat keras fisik.

Langkah ini menandai keseriusan industri telekomunikasi untuk mengejar target operasional komersial jaringan 6G pada tahun 2030 mendatang. Berbagai inovasi semikonduktor terus bermunculan untuk menjawab tantangan kecepatan transmisi data yang ekstrem.

​Pada pergantian bulan Februari hingga awal Maret 2026, akselerasi nyata terlihat di sektor perangkat keras keras. Broadcom secara resmi merilis System on Chip (SoC) Front-End berbasis teknologi CMOS yang khusus dirancang untuk kebutuhan 6G dengan konfigurasi Massive MIMO.

Peluncuran ini menjadi sinyal kuat bahwa ekosistem penunjang infrastruktur seluler generasi baru mulai terbentuk di pasaran.

​Bersamaan dengan itu, tiga perusahaan besar yakni Samsung, KT, dan Keysight berhasil memvalidasi teknologi X-MIMO. Mereka sukses melakukan pengujian pada pita frekuensi 7 GHz.

Langkah teknis ini sangat vital untuk memastikan spektrum frekuensi tinggi dapat digunakan secara stabil di luar laboratorium. Persaingan ini bukan sekadar unjuk gigi teknologi, melainkan strategi menguasai paten global yang berpotensi menghasilkan keuntungan bernilai triliunan dolar dalam sepuluh tahun ke depan.

​Pusat Riset Baru Mulai Bermunculan

​Dinamika industri juga ditandai dengan langkah agresif perusahaan telekomunikasi asal Eropa. Ericsson mengambil keputusan strategis dengan mendirikan pusat penelitian dan pengembangan (R&D) 6G baru di Yokohama, Jepang. Ekspansi fisik ini menunjukkan betapa pentingnya kawasan Asia Timur sebagai pusat gravitasi inovasi teknologi seluler dunia.

Upaya ini juga sejalan dengan dokumen studi tingkat 6G RAN yang disetujui pada pertemuan 3GPP TSG-RAN #106 di Madrid pada Desember 2024 lalu.

​Perwakilan resmi China Mobile, salah satu anggota konsorsium 3GPP, pada pertemuan bulan Desember 2024 tersebut menekankan pentingnya kolaborasi global.

“Standarisasi 6G harus didorong oleh tuntutan realistis dari digitalisasi sosial dan pengembangan cerdas. Dengan pikiran terbuka, persatuan dan kerja sama, kami akan membangun standar 6G global yang bersatu,” tegasnya.

Kolaborasi lintas-negara ini diharapkan mampu menekan biaya pengembangan yang sangat tinggi akibat penggunaan infrastruktur gelombang tinggi (THz) yang rawan gangguan fisik. *