“Sebuah norma hanya sah jika semua yang terdampak bisa menerimanya melalui diskursus yang bebas.” — Jürgen Habermas

KOSONGSATU.ID—Di banyak negara, hukum sering terasa seperti dinding besar: formal, kaku, dan jauh dari kehidupan sehari-hari. Tapi bagi Jürgen Habermas, filsuf asal Jerman, hukum seharusnya tidak seperti itu.

Ia percaya, hukum bukan alat untuk menakut-nakuti rakyat, tapi ruang percakapan bersama.

Habermas lahir tahun 1929 di Düsseldorf, dan tumbuh di masa ketika Eropa baru pulih dari luka perang. Dari pengalaman itulah ia menulis tentang pentingnya komunikasi rasional dan keadilan sosial.

Berbeda dari banyak pemikir lain, ia tidak menulis untuk menara gading, tapi untuk kehidupan bersama. Baginya, dunia yang sehat adalah dunia yang bisa diajak bicara.

Juergen Habermars. – WIKIPEDIA

Ketika Hukum Turun dari Langit

Habermas menolak pandangan bahwa hukum cukup dibuat oleh lembaga, disahkan, lalu dianggap sah.

Menurutnya, hukum baru punya makna kalau semua orang yang terdampak ikut bicara dan bisa menerima alasannya secara rasional.

Ia menyebut gagasannya sebagai demokrasi deliberatif — demokrasi yang tumbuh bukan dari jumlah suara, tapi dari mutu percakapan.

Demokrasi yang sehat tidak diukur dari seberapa sering rakyat memilih, tapi seberapa sering mereka didengar. Bagi Habermas, hukum tanpa dialog hanyalah perintah.

Dan negara tanpa percakapan hanyalah mesin yang berjalan di atas kesunyian warganya.

Ketika Sistem Menguasai Manusia

Habermas juga memperingatkan tentang sesuatu yang ia sebut kolonisasi dunia hidup — keadaan ketika sistem seperti uang, birokrasi, dan kekuasaan mengambil alih ruang kemanusiaan.

Saat itu terjadi, nilai-nilai sosial dan moral manusia perlahan terkikis oleh logika efisiensi dan kepentingan. Hukum pun berubah menjadi alat pengendali, bukan pelindung.

Ia menulis: jika hukum berhenti menjadi hasil dialog, maka yang berkuasa bukan lagi akal budi, tapi sistem yang tak mengenal nurani.

Bayangan Habermas di Indonesia

Kalau kita menengok Indonesia hari ini, seolah cermin pemikiran Habermas sedang berdiri di depan mata kita.

Kita melihat bagaimana undang-undang dibuat tanpa diskusi publik, bagaimana suara rakyat sering dianggap bising, dan bagaimana kebijakan publik lebih sering ditentukan oleh elite daripada dialog.

UU yang lahir dari ruang tertutup

UU Cipta Kerja, RKUHP, dan sejumlah peraturan strategis lain disahkan dengan proses minim partisipasi publik.

Padahal dalam logika Habermas, legitimasi hukum datang dari partisipasi warga. Tanpa itu, hukum hanya tampak sah secara administratif — tapi kosong secara moral.

Ruang publik yang tertekan

Dalam beberapa tahun terakhir, kita melihat semakin sempitnya ruang kritik. UU ITE masih menjerat banyak orang hanya karena mengutarakan pendapat.

Bagi Habermas, ini pertanda serius: komunikasi publik sedang sakit. Hukum kehilangan jantungnya ketika warga takut bicara.

Kolonisasi dunia hidup oleh sistem politik dan modal

Di banyak kasus hukum besar, dari korupsi sampai manipulasi kebijakan, kita melihat uang dan kekuasaan mengalahkan keadilan.

Itulah “kolonisasi” yang dimaksud Habermas — ketika sistem politik dan ekonomi menelan ruang moral dan komunikasi masyarakat.

Cahaya kecil dari Mahkamah Konstitusi

Namun ada pula tanda positif: pada 2025, MK melarang pemerintah dan perusahaan menggugat defamasi terhadap individu.

Sebuah langkah kecil, tapi sejalan dengan semangat Habermas: melindungi ruang komunikasi dari dominasi kekuasaan.

Dari Bilik Suara ke Ruang Bicara

Habermas mengingatkan: demokrasi sejati bukan sekadar nyoblos lima tahun sekali.

Demokrasi sejati terjadi ketika rakyat bicara dan negara mendengar.

Ketika masyarakat bisa berdiskusi, menantang, bahkan mengoreksi kekuasaan tanpa rasa takut.

Di titik itulah hukum menemukan legitimasinya — bukan dari tandatangan pejabat, tapi dari kesediaan rakyat untuk sepakat.

Indonesia, dengan segala dinamika hukumnya, masih berada di tengah perjalanan panjang menuju bentuk ideal itu.

Namun, selama masih ada orang yang mau bicara, mau mendengar, dan mau berpikir bersama, hukum belum sepenuhnya kehilangan harapan.

Pelajaran untuk Generasi Muda

Untuk anak muda zaman sekarang, pemikiran Habermas mungkin terdengar akademik. Tapi, sebenarnya ia hanya mengingatkan hal sederhana:

Keadilan bukan hadiah dari negara, tapi hasil dari keberanian kita berdialog.

Ketika kamu berdiskusi, menulis kritik, membuat petisi, atau sekadar bertanya kenapa sesuatu tidak adil — kamu sedang menjaga agar hukum tetap manusiawi.

Dan di situ, kata Habermas, demokrasi menemukan maknanya.***