Sejarah telah mencatat banyak organisasi berawal dari idealisme kebangsaan, perlahan bernegosiasi dengan kenyamanan akses kekuasaan, hingga akhirnya kehilangan keberanian. Perlahan, kritik menumpul dan analisis mencari posisi aman. Forum-forum simposium dan diskusi berskala nasional kerap berubah fungsi menjadi ruang legitimasi semata. 

Tanpa sadar, gagasan mengekor pada proyek, bukan sebaliknya.

Oleh karena itu, jika ISNU ingin memantapkan diri sebagai kiblat pemikiran nasional, para pengurus harus berani membalik arah gerak tersebut. Silakan terima proyek kolaborasi dan jalin kerja sama lintas sektor, tetapi pastikan semua inisiatif lahir dari gagasan yang merdeka, bukan dari desakan kebutuhan pragmatis apalagi transaksional.

Berperan sebagai mitra pemerintah tidak otomatis mengubah status kaum cendekiawan menjadi pelaksana teknis. Peran yang jauh lebih bermartabat adalah menjadi mitra kritis yang konstruktif. ISNU harus berani memberi masukan, menyusun kajian mendalam, bahkan membedah dan mengoreksi kebijakan nasional jika situasinya memang mendesak. 

Pada titik inilah wibawa kaum intelektual Nahdliyin sungguh-sungguh terbangun.

Pilihan Menentukan Arah

Tentu saja, merawat idealisme di tingkat nasional tidak pernah mudah. Selalu ada tekanan untuk “menyesuaikan diri” atau godaan elite untuk berpikir “sekalian saja mumpung punya akses”. Kadang, sikap kritis menciptakan situasi yang tidak nyaman di lingkar kekuasaan. Namun, justru pada momen-momen tensi tinggi itulah ketangguhan moral sebuah organisasi intelektual menghadapi ujian sebenarnya.

ISNU kini harus membuat pilihan tegas. Apakah ingin menjadi organisasi elite yang sekadar ramai seremonial, atau organisasi yang punya pengaruh kuat dalam menajamkan visi bernegara? Apakah ingin membesar karena sokongan proyek, atau menjadi bermakna karena ketajaman gagasan dan advokasi kebijakan?

Pilihan tersebut tidak menoleransi penundaan. Jika ISNU konsisten menjaga jarak sehat dengan kekuasaan—dekat saat berkolaborasi namun jauh dari jerat kooptasi—organisasi ini pasti tumbuh menjadi kekuatan moral dan intelektual yang sangat diperhitungkan di Indonesia.