Harga daging sapi melonjak ke Rp143.400/kg, sementara telur lampaui HAP. Fakta pasar ini membantah klaim Bapanas soal stabilitas pangan, memicu desakan intervensi darurat jelang Ramadan 2026.


KOSONGSATU.ID – Narasi pemerintah mengenai stabilitas harga pangan menjelang Ramadan 2026 kini berbenturan keras dengan realita di lapangan. Meski Badan Pangan Nasional (Bapanas) mengklaim harga mulai terkendali, pantauan pasar pada pertengahan Februari 2026 justru menunjukkan lonjakan tajam pada sejumlah komoditas esensial.

Berdasarkan data per 12 Februari 2026, harga daging sapi di tingkat eceran telah melonjak drastis hingga menyentuh Rp143.400 per kilogram. Angka ini dinilai telah melampaui batas kewajaran daya beli masyarakat.

Kondisi tersebut kian diperburuk dengan melesatnya harga telur ayam ras yang mencapai Rp31.950 per kilogram, melanggar Harga Acuan Penjualan (HAP) yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp30.000.

Ahmad, salah seorang pedagang daging di Pasar Cibubur, Jakarta Timur, mengungkapkan bahwa kenaikan ini merupakan dampak lanjutan setelah aksi mogok dagang pada akhir Januari lalu.

“Harga memang naik sejak kami usai mogok dagang,” ujarnya saat menjelaskan fakta pasar, Kamis (12/2).

Teguran Bapanas dan Efektivitas di Lapangan

Menanggapi gejolak ini, Satgas Saber Pelanggaran Harga Bapanas dilaporkan telah memeriksa ribuan titik di 38 provinsi. Hingga 13 Februari 2026, otoritas terkait telah melayangkan 128 surat teguran tertulis kepada para distributor yang membandel.

Deputi Ketersediaan dan Stabilisasi Pangan Bapanas, I Gusti Ketut Astawa, tetap optimistis bahwa tren harga akan melandai. Ia menegaskan bahwa tindakan tegas terus dilakukan agar pelaku usaha mematuhi ketentuan Harga Eceran Tertinggi (HET) dan HAP.

“Tindakan ini menjadi peringatan bagi pelaku usaha agar mematuhi ketentuan yang ada,” tegas Astawa, Jumat (13/2).

Desakan Intervensi Menjelang Ramadan

Meski ratusan teguran telah diterbitkan, publik meragukan efektivitas langkah tersebut dalam menekan harga secara instan. Ketua Umum Ikatan Pedagang Pasar Indonesia (IKAPPI), Abdullah Mansuri, sebelumnya telah mengingatkan bahwa pola kenaikan harga menjelang Ramadan 2026 cenderung berulang seperti tahun-tahun sebelumnya jika tidak dimitigasi sejak awal.

Kekhawatiran kian menguat setelah Perumda Dharma Jaya memproyeksikan harga daging masih berpotensi merangkak naik sekitar 7 hingga 15 persen pada bulan depan.

Kini, bola panas berada di tangan Kementerian Perdagangan dan Bulog. Pemerintah dituntut segera melakukan intervensi nyata dengan mengguyur pasar menggunakan cadangan impor daging beku. Jika operasi pasar skala besar tidak dilakukan dalam minggu depan, lonjakan harga pangan dikhawatirkan akan semakin tidak terkendali bagi konsumen.***