Di era ketika peran gender kerap menjadi perdebatan panas di ruang digital, Keraton Kasunanan Surakarta memilih cara berbeda untuk menyampaikan pesan. Lewat sayur mentah dan jajanan pasar.
KOSONGSATU.ID – Pada perayaan Grebeg Syawal, Minggu (22/3/2026) pekan lalu, keraton kembali mengeluarkan sepasang gunungan.
Bukan sembarang gunungan.
Ini adalah Gunungan Jaler dan Gunungan Estri—dua wujud fisik yang berbicara lebih keras dari seribu kata tentang bagaimana masyarakat Jawa memahami harmoni.
Dua Bentuk, Satu Makna
Sejak pagi, ratusan prajurit dari berbagai bregada bersiap mengawal gunungan dari pelataran Kedhaton. Tepat pukul 10.00 WIB, usai mendapat pangestu dari SISKS Pakubuwana XIII, arak-arakan bergerak dari Kori Kamandungan menuju Masjid Agung.
Warga menyambut dengan antusias. Tapi, yang membuat perbedaan ada pada isi.
Keraton mendesain kedua gunungan ini dengan komposisi yang sangat kontras. Gunungan Jaler—setinggi hampir tiga meter—memuat bahan pangan mentah. Kerangka bambunya dipenuhi sayur-mayur: kacang panjang, cabai, terong. Semua bahan ini mencakup pala gumantung (buah yang menggantung), pala kependem (umbi-umbian), dan pala kesampar (hasil bumi di atas tanah).
Bentuknya menjulang tinggi menyerupai kerucut—tegas, mengarah ke atas.
Sebaliknya, Gunungan Estri tampil lebih melebar dengan bagian atas yang melengkung. Komposisinya terdiri dari makanan olahan yang siap santap. Jajanan pasar, kue tradisional, hingga rengginang tersusun rapi membentuk struktur gunungan yang lebih bundar dan mengayomi.
Filosofi di Balik Bentuk
Pengageng Parentah Keraton Kasunanan Surakarta, KGPH Dipokusumo, menegaskan bahwa kehadiran sepasang gunungan ini bukan sekadar tradisi turun-temurun. Ia adalah representasi hukum alam yang paling mendasar.
“Segala sesuatu kan selalu berpasangan. Ada siang dan malam, panas dan dingin, dan lain sebagainya. Dua-duanya harus ada dalam kadar yang seimbang,” kata KGPH Dipokusumo.
Keseimbangan itu kemudian diterjemahkan ke dalam pembagian peran yang lebih konkret.





Tinggalkan Balasan