Keraton tidak sedang menggurui. Ia hanya menyajikan filosofi lewat cabai, terong, dan rengginang. Lalu menyerahkannya kepada warga untuk mengambil makna sendiri.
Dan ketika Dina dari Boyolali pulang membawa kacang panjang dan cabai, ia tidak hanya membawa sayur. Ia membawa cerita tentang keseimbangan yang akan dimasak dan disantap bersama keluarganya.
Di dapur rumahnya, Gunungan Jaler dan Estri bertemu lagi. Dan harmoni itu terasa—setidaknya di meja makan.***
Halaman



Tinggalkan Balasan