Salah ucap soal kenaikan 300 persen mungkin sudah selesai di ruang sidang. Tetapi bagi guru, kalimat itu telanjur membuka pertanyaan yang lebih besar: kalau negara bisa menaikkan martabat profesi lain demi menjaga keadilan, mengapa guru masih harus menunggu giliran?***
Halaman


Tinggalkan Balasan