Emas Antam turun tajam Rp45.000 per gram akibat tekanan penguatan dolar Amerika Serikat.


KOSONGSATU.ID–Harga emas batangan produksi PT Aneka Tambang Tbk atau Antam mengalami koreksi harga yang sangat signifikan pada perdagangan Kamis, 26 Februari 2026.

Penurunan ini tercatat sebesar Rp45.000 per gram dibandingkan harga hari sebelumnya. Berdasarkan data resmi dari laman Logam Mulia, harga emas kini berada di level Rp3.039.000 per gram, sebuah angka yang mengejutkan pasar logam mulia domestik.

Kondisi ini berbanding terbalik dengan tren awal Februari yang sempat menyentuh rekor tertinggi sepanjang masa. Anomali pasar mulai terlihat sejak pembukaan perdagangan pagi hari pukul 08.15 WIB.

Penurunan tajam ini merupakan yang terdalam dalam dua kuartal terakhir tahun 2026. Banyak pihak menilai fluktuasi ini sangat dipengaruhi oleh dinamika ekonomi global yang bergerak cepat dalam 24 jam terakhir.

Penguatan indeks dolar Amerika Serikat menjadi faktor utama yang menekan harga emas global maupun domestik. Kondisi ini diperparah dengan rilis data inflasi Amerika Serikat yang ternyata lebih rendah dari ekspektasi pasar. Alhasil, investor mulai melirik instrumen investasi lain yang dianggap lebih menguntungkan untuk jangka pendek.

Analisis Penyebab dan Dampak Pasar

Ibrahim Assuaibi selaku Direktur PT Laba Forexindo Berjangka memberikan pandangannya mengenai situasi ini pada 26 Februari 2026. Beliau menyatakan bahwa penurunan tajam ini murni disebabkan oleh tekanan dari mata uang dolar AS atau Greenback. Investor global mulai beralih sementara ke obligasi karena imbal hasil yang membaik. Fenomena ini memaksa harga emas jatuh dari level psikologisnya.

Meskipun Antam turun drastis, pergerakan harga di Pegadaian justru menunjukkan tren yang bervariasi. Emas UBS dilaporkan hanya turun sekitar Rp17.000 menjadi Rp3.082.000 per gram. Sementara itu, emas di Galeri 24 mengalami koreksi sebesar Rp28.000 dan berada di level Rp3.057.000 per gram. Perbedaan kecepatan respon harga ini seringkali membingungkan para investor ritel di lapangan.

Fahmi Amir, seorang analis logam mulia eksternal, menjelaskan fenomena perbedaan harga ini dalam wawancara pada pagi hari yang sama. Ia menyebutkan bahwa anomali perbedaan harga antara Antam dan UBS terjadi karena mekanisme inventori. Jeda pembaruan harga di tingkat ritel Pegadaian cenderung lebih lambat merespon volatilitas global dibandingkan dengan harga spot Antam.

Secara teknikal, para analis masih melihat titik cerah bagi pemegang emas jangka panjang. Area Rp3.000.000 per gram diprediksi akan menjadi level dukungan atau support yang cukup kuat. Jika harga mampu bertahan di atas angka tersebut, emas berpotensi untuk kembali memantul atau rebound ke level Rp3.200.000 pada kuartal berikutnya tahun ini.

Dampak jangka pendek dari penurunan ini adalah munculnya aksi jual oleh investor ritel yang merasa panik. Terutama bagi mereka yang melakukan pembelian saat harga berada di puncak atas Rp3,1 juta. Namun, bagi sebagian investor cerdas, penurunan harga ini justru dianggap sebagai peluang untuk menambah koleksi aset mereka sebelum harga kembali merangkak naik.***