Di tengah ancaman inflasi dan naiknya harga bahan pokok, sebuah komunitas di Jombang membangun lumbung pangannya sendiri—tanpa subsidi negara, tanpa proposal bantuan.


KOSONGSATU.ID–Berpusat di Pesantren Majma’al Bahrain Jombang, jaringan Thoriqoh Shiddiqiyyah merawat apa yang mereka sebut sebagai Dakwah Ekonomi Umat: sebuah model ekonomi sirkular yang menautkan ibadah, usaha, dan distribusi sosial dalam satu ekosistem yang saling menguatkan. 

Di dalamnya, tidak ada sekat tegas antara ruang spiritual dan ruang ekonomi. Keduanya bergerak dalam ritme yang sama.

Motor penggeraknya adalah Dhilaal Berkat Rahmat Allah (DHIBRA), sayap kemanusiaan yang selama dua dekade terakhir mengorkestrasi distribusi pangan dan santunan kepada kelompok rentan. Prinsip dasarnya sederhana namun tegas: kemandirian. Komunitas ini secara konsisten menolak subsidi eksternal dan menggantungkan seluruh pembiayaan pada sirkulasi ekonomi internal.

Ekosistem itu ditopang oleh sejumlah unit usaha—mulai dari Hotel Yusro, Air Minum Maaqo, hingga Tabungan Tajrin Naf’a. Keuntungan yang diperoleh tidak berhenti di laporan laba, melainkan diputar kembali menjadi bantuan langsung bagi dhuafa, anak yatim, dan masyarakat miskin. Dari hulu ke hilir, perputaran ekonomi itu dirancang untuk kembali ke umat.

Memotong Rantai Kerawanan Pangan

Dalam praktiknya, model ini terbukti responsif ketika tekanan harga pangan meningkat. Bantuan sembako dan distribusi sayuran segar dari hasil panen warga menjadi penyangga saat daya beli masyarakat melemah, terutama menjelang dan selama Ramadan.

Pada 11 Maret 2025, bertempat di Hotel Yusro Jombang, DHIBRA mendistribusikan 3.817 paket bantuan dengan total nilai sekitar Rp700 juta. Setiap dhuafa yang hadir menerima santunan tunai sebesar Rp400.000. Angka itu mungkin tampak sederhana di atas kertas, tetapi di tengah lonjakan harga kebutuhan pokok, ia menjadi napas yang melegakan.

Narasi yang dibangun pun tidak semata ekonomi. Ramadan dipertautkan dengan rasa syukur atas kemerdekaan Indonesia—sebuah strategi kultural yang efektif memobilisasi filantropi internal.