Ulasan komprehensif yang diterbitkan di ScienceDirect (2024) mengonfirmasi borneol memiliki aktivitas antibakteri, analgesik, antioksidan, dan neuroprotektif — serta mampu menembus sawar darah-otak (blood-brain barrier). Menjadikannya kandidat serius untuk terapi stroke.

Studi Zhang et al. (2017) di International Immunopharmacology menemukan kombinasi (+)-borneol dan edaravon secara signifikan meredakan kolitis — peradangan usus besar — pada model hewan percobaan melalui jalur JAK2-STAT3.

Sementara itu, analisis kimia pada mumi Mesir Kuno yang dipublikasikan Journal of the American Chemical Society (2025) mendeteksi keberadaan borneol dalam bahan pembalseman — konsisten dengan catatan sejarah bahwa kapur barus adalah komoditas mewah peradaban kuno.

Pohon Warisan yang Sekarat di Tanahnya Sendiri

Ironisnya, pohon yang membuat Barus termasyhur itu kini berjuang untuk bertahan. IUCN (2018) mengklasifikasikan Dryobalanops aromatica sebagai Vulnerable secara global dan Critically Endangered di Indonesia — terancam oleh ekspansi perkebunan sawit dan penebangan hutan dataran rendah.

Pohon yang butuh lebih dari 50 tahun untuk menghasilkan kristal borneol itu tidak punya waktu menunggu regulasi bergerak lebih cepat dari gergaji mesin.

Ilmu Warisan yang Layak Diselamatkan

Pengobatan datu bertahan bukan karena masyarakat Barus “ketinggalan zaman”. Catatan Rusmin dalam bukunya Gerbang Agama-Agama Nusantara (Komunitas Bambu, 2017) justru memperlihatkan bahwa dari 166 spesies tumbuhan yang digunakan para datu, 56 di antaranya belum pernah masuk laboratorium farmasi modern — artinya, masih ada puluhan potensi senyawa aktif yang belum kita gali.

Sebelum pohonnya habis, dan sebelum pengetahuannya ikut terkubur, ada baiknya kita mulai memperlakukan sistem datu Barus bukan sebagai warisan budaya yang dimuseumkan — melainkan sebagai data sains yang belum selesai dieksplorasi.***


Catatan: Meski khasiat borneol sudah divalidasi secara ilmiah, penggunaan kapur barus mentah tetap memerlukan pengawasan ahli. Dosis berlebih bersifat toksik.