“Padahal dari tempat itu Bung Tomo menyiarkan pidato yang membakar semangat arek-arek Suroboyo,” ujarnya, dikutip dari ANTARA Jatim.
Radio tersebut didirikan Bung Tomo bersama Ktut Tantri dan sejumlah rekannya menggunakan pemancar portabel. Siaran dari lokasi itu diyakini turut memicu gelora perlawanan yang kemudian dikenal sebagai Pertempuran 10 November 1945.
Bangunan tersebut berstatus cagar budaya tipe B dan dibongkar oleh pemilik hampir sebulan tanpa diketahui pemerintah kota maupun dinas terkait. Kondisi ini memunculkan kritik bahwa pengawasan terhadap warisan sejarah masih lemah.
Terungkap Secara Tidak Sengaja
Ironisnya, pembongkaran rumah bersejarah itu terjadi pada 2016 meski statusnya telah ditetapkan sebagai cagar budaya. Kasus tersebut pertama kali terungkap ketika Kuncarsono menemukan lokasi sudah hancur total sekitar pukul 07.00 WIB saat melintas di kawasan tersebut.
Temuan itu kemudian diunggah ke media sosial dan dengan cepat menarik perhatian wartawan hingga menjadi sorotan nasional, sebagaimana dilaporkan Detik Jatim.
Ketiadaan bangunan ini membuat Surabaya kehilangan salah satu saksi penting sejarah perjuangan. Dari lokasi itulah, pidato Bung Tomo diyakini menyulut emosi rakyat untuk melawan penjajah hingga Surabaya dikenang sebagai Kota Pahlawan.
Presiden Ikut Menyinggung
Sorotan terhadap situs ini kembali menguat setelah Presiden Prabowo Subianto menyinggung hilangnya Stasiun Radio Bung Tomo dalam forum Rapat Koordinasi Nasional Pemerintah Pusat dan Daerah 2026.
Bangunan yang dahulu menjadi markas siaran perjuangan itu disebut telah dibongkar dan berubah menjadi bangunan baru sejak sekitar 2016, meski menyimpan nilai sejarah penting bagi Indonesia, sebagaimana diberitakan Selingkar Wilis.
Pernyataan tersebut menambah tekanan agar pemerintah daerah memberikan kejelasan mengenai perlindungan cagar budaya, termasuk memastikan kejadian serupa tidak terulang.
Rekonstruksi atau Museum?
Sejumlah pengamat menilai rekonstruksi masih memungkinkan dilakukan jika kajian akademis disusun secara serius. Bangunan yang telah hancur sekalipun dapat dibangun kembali dengan melibatkan berbagai disiplin ilmu serta referensi dokumentasi lama.




Tinggalkan Balasan