Pohon beringin yang dipilih sebagai tempat bersemayam danyang bukan kebetulan. Akar gantungnya yang masif menahan erosi, tajuknya menampung air hujan, dan sistem perakarannya menjaga stabilitas debit mata air. Di desa-datas desa Jawa yang masih merawat tabu ini, debit air terbukti lebih stabil di musim kemarau dibanding desa-desa yang sudah mengabaikannya.

“Jadi kalau mereka bilang ‘jangan ganggu beringin karena ada penunggunya’, ya sebenarnya yang dijaga itu airnya,” kata seorang peneliti yang dikutip Mojok.co. “Hanya bahasanya saja yang mistis.”

Jangkar Psikologis di Tengah Ketidakpastian

Kehidupan agraris penuh ketidakpastian: gagal panen, wabah, banjir. Dalam kondisi itu, manusia membutuhkan sesuatu yang bisa dipegang. Danyang menyediakan kerangka psikologis itu—bukan dengan menipu, melainkan dengan menawarkan rasa terhubung pada sesuatu yang lebih besar dari diri sendiri.

Filosofi Memayu Hayuning Bawono—ikhtiar menjaga keselarasan semesta—hidup di jantung tradisi ini. Ia mengajarkan bahwa manusia bukan pemilik alam, melainkan bagian dari siklus yang harus dijaga. Watak eling, narima, dan sabar yang tumbuh dari penghayatan ini bukan kelemahan; ia adalah mekanisme regulasi diri yang terbukti relevan hingga hari ini.

Bukan Takhayul. Bukan Kebetulan.

Menjaga punden dan menggelar slametan bukanlah penyerahan diri pada hal gaib. Ia adalah cara nenek moyang merawat sejarahnya, mengelola sumber dayanya, merekatkan komunitasnya, dan menjaga kewarasan kolektifnya—sekaligus dalam satu sistem yang berjalan ribuan tahun tanpa anggaran pemerintah.

Mungkin sudah waktunya kita berhenti menertawakan danyang, dan mulai bertanya: sistem mana yang lebih canggih—yang membutuhkan papan larangan untuk menjaga pohon, atau yang menjaganya tanpa papan sama sekali?***


Daftar Rujukan:

  1. Wikipedia bahasa Indonesia. “Danyang.” Wikimedia Foundation. https://id.wikipedia.org/wiki/Danyang
  2. Annisa, N., & Wardana, A. “Tradisi Slametan pada Masyarakat Jlatren, Jogotirto Berbah, Sleman, Yogyakarta.” Dimensia: Jurnal Kajian Sosiologi, Universitas Negeri Yogyakarta. https://journal.uny.ac.id/index.php/dimensia/article/view/35564
  3. Pratama, F. N. F., Nurdianto, S. A., & Waluyo, S. “Mistifikasi Masyarakat Jawa Terhadap Pohon Beringin.” Jantra, Vol. 17, No. 1, Juni 2022. Kemdikbud. https://jantra.kemdikbud.go.id/index.php/jantra/article/download/166/99
  4. Pambudi, A. S. “Jejak Ekologi Kearifan Jawa dalam Filosofi Umbul Dijaga Pohon Beringin.” Kompasiana, Desember 2025. https://www.kompasiana.com/andisetyopambudi5192/69341c9be6586f39ac0ca0d2/jejak-ekologi-kearifan-jawa-dalam-filosofi-umbul-dijaga-pohon-beringin
  5. Mohtarom. “Pohon Beringin, Si Angker yang Menyelamatkan Sumber Mata Air di Lereng Muria.” Mojok.co, Oktober 2025. https://mojok.co/liputan/mendalam/pohon-beringin-si-angker-penyelamat-bumi-muria/
  6. Atmaja, et al. “Memayu Hayuning Bawana: Implementasi Nilai Luhur Kebudayaan Jawa sebagai Gaya Hidup Ramah Lingkungan.” Geography: Jurnal Kajian, Penelitian dan Pengembangan Pendidikan, Vol. 12, No. 2, September 2024. https://www.researchgate.net/publication/384334469
  7. Afandi, N. A., et al. “Kesejahteraan Mental Berbasis Kearifan Lokal pada Prinsip Feng Shui dan Memayu Hayuning Bawono.” Jurnal Impresi Indonesia, 2025. https://www.researchgate.net/publication/394676369
  8. Hanik, U., & Turmudi, M. “Slametan sebagai Simbol Harmoni dalam Interaksi Sosial Agama dan Budaya Masyarakat Desa.” ResearchGate, 2020. https://www.researchgate.net/publication/339044922
  9. Geertz, Clifford. Abangan, Santri, Priyayi dalam Masyarakat Jawa. Jakarta: Pustaka Jaya, 1983.
  10. Republika Online. “Islam di Jawa: Makhluk Halus Pelindung.” Mei 2020. https://khazanah.republika.co.id/berita/qb0fox385/islam-di-jawa-makhluk-halus-pelindung