RW IV Ngagel Rejo, Surabaya, resmi jadi prototype Kampung Pancasila. Berkat transparansi dana swadaya Rp90 juta dan sistem ekonomi mandiri, kampung ini jadi kiblat bagi 1.360 titik di Surabaya.
KOSONGSATU.ID – Di tengah kepungan modernitas dan individualisme kota besar, sebuah sudut di Kelurahan Ngagel Rejo, Surabaya, justru memilih jalan “kuno” yang terbukti ampuh: gotong royong. RW IV Ngagel Rejo kini resmi menyandang status sebagai prototype atau model percontohan bagi ribuan Kampung Pancasila lainnya di Kota Pahlawan.
Bukan sekadar deretan mural merah-putih atau hiasan simbol negara, kampung ini membuktikan bahwa Pancasila adalah solusi konkret atas persoalan ekonomi dan sosial warga urban.
Transparansi yang Menggerakkan Hati
Salah satu indikator keberhasilan paling mencolok di RW IV Ngagel Rejo adalah tingginya kepercayaan warga. Dalam kurun waktu dua tahun terakhir (2024–2026), warga secara swadaya mengumpulkan donasi sosial hingga mencapai angka fantastis: Rp90.331.000.
Ketua RW IV Ngagel Rejo, Endang Purwaningtyas, mengungkapkan bahwa transparansi adalah kunci. Dari total dana tersebut, sebanyak Rp88.686.500 telah disalurkan kembali untuk membantu warga pra-sejahtera, pembelian kursi roda bagi lansia, hingga dukungan rutin bulanan pada program “Bangga Surabaya Peduli”.
”Dana ini dari warga, untuk warga. Kami pastikan setiap rupiah yang masuk tercatat dan dampaknya terasa langsung, mulai dari bantuan sembako hingga alat kesehatan,” ujar Endang saat ditemui dalam laporan publik, Senin (23/2).
Sistem ‘Sinoman’ dan Bank Sampah: Benteng Ekonomi Mandiri
Kemandirian kampung ini juga terlihat dari sistem Sinoman (santunan kematian) yang melibatkan 741 Kepala Keluarga. Hanya dengan iuran Rp2.000 setiap ada warga yang meninggal dunia, kas mereka kini menyentuh angka Rp50.038.300 per November 2025.
Di sisi lain, isu lingkungan disulap menjadi pundi rupiah melalui Bank Sampah Guyub Sayekti di RT 18. Setiap bulannya, bank sampah ini mampu memproses 3 hingga 3,5 ton sampah kering. Hasil penjualannya tidak masuk ke kantong pribadi, melainkan digunakan untuk membiayai operasional keamanan lingkungan dan bantuan pendidikan.
Restu Wali Kota: Menjadi Kiblat 1.360 Kampung
Keberhasilan ini menarik perhatian langsung Wali Kota Surabaya, Eri Cahyadi. Saat melakukan kunjungan lapangan pada 22 Februari 2026, Eri menetapkan wilayah ini sebagai standar emas bagi 1.360 titik Kampung Pancasila di seluruh Surabaya.
”Kampung Pancasila ini luar biasa. Di sini sudah jalan terkait pilah sampah, terkait orang yang mampu membantu orang yang tidak mampu. Ini saya buat jadi prototype untuk ke depannya,” tegas Eri Cahyadi dalam keterangannya.
Eri menekankan bahwa esensi Kampung Pancasila bukan sekadar implementasi nilai dasar, melainkan wadah untuk menggalakkan toleransi kaffah (menyeluruh) dan solusi tuntas masalah banjir melalui sinkronisasi Musrenbang.
Analisis: Melawan Stigma “Kampung Tematik”
Selama ini, banyak kampung tematik hanya berakhir sebagai objek swafoto. Namun, Ngagel Rejo mematahkan stigma tersebut dengan membangun sistem keamanan terpadu (SISKAMDU) satu pintu dan ketahanan pangan melalui 48 unit urban farming.
Tantangan ke depan adalah konsistensi. Menjaga kohesi sosial 100% warga di lingkungan urban yang heterogen tentu bukan perkara mudah. Namun, dengan laporan saldo yang transparan hingga satuan rupiah, warga Ngagel Rejo telah meletakkan fondasi terkuat dalam bernegara: yaitu Kepercayaan.***





Tinggalkan Balasan