Beijing menari di dua kaki: butuh stabilitas Teluk, tapi tak ingin kehilangan Iran. Araghchi datang menagih kepastian sepekan sebelum Trump tiba.


KOSONGSATU.ID – China berada dalam posisi paling rumit sejak perang Iran pecah. Beijing menyerap sekitar 90 persen ekspor minyak mentah Iran, tetapi juga butuh stabilitas Teluk Persia demi melindungi arus dagang dan energi globalnya. Tekanan datang dari dua arah sekaligus.

Washington tak henti mendesak Beijing turun tangan. Menteri Keuangan AS Scott Bessent pekan ini meminta China “step up” menekan Tehran agar membuka kembali Selat Hormuz. Sebelum perang, sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas alam cair dunia melintasi selat itu.

Iran sendiri menutup Hormuz sejak AS dan Israel menyerangnya pada 28 Februari 2026. Setelah gencatan senjata April, AS membalas dengan memblokade pelabuhan-pelabuhan Iran. Lalu lintas komersial anjlok tajam dan harga energi bergejolak.

Araghchi Datang Menagih Kepastian

Di tengah jepitan inilah Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi mendarat di Beijing, Rabu (6/5/2026), menemui Menlu China Wang Yi. Ini kunjungan perdana Araghchi sejak perang pecah.

Tehran tidak datang hanya untuk basa-basi diplomatik. Iran ingin kepastian soal aliran minyak, kanal keuangan alternatif, serta dukungan Beijing di Dewan Keamanan PBB jika AS kembali mendorong aksi militer.

Korespondennya Al Jazeera di Beijing, Katrina Yu, menyebut dua agenda mendominasi pertemuan: mempertahankan gencatan senjata dan membuka kembali Selat Hormuz. Beijing selama ini mengkritik blokade laut AS, tapi juga mulai gerah dengan keputusan Iran menutup selat vital itu.

Bayang-Bayang Pertemuan Trump-Xi

Tanggal kunjungan ini bukan kebetulan. Araghchi sengaja datang sepekan sebelum Presiden AS Donald Trump menemui Presiden China Xi Jinping di Beijing pada 14–15 Mei 2026. Pertemuan Trump-Xi sebelumnya tertunda persis karena perang Iran.

Bagi Tehran, ini momentum krusial mengunci posisi Beijing sebelum tawar-menawar dimulai. Danny Russel dari Asia Society Policy Institute menilai kunjungan tersebut menjadi cara Iran menunjukkan kepada Washington bahwa mereka tidak terisolasi. Iran tidak ingin kepentingannya dijadikan bahan tawar antara dua kekuatan besar.