Kesalehan ritual tanpa aksi nyata mereduksi agama menjadi pelarian spiritual yang gagal.


KOSONGSATU.ID–Di tengah masyarakat Indonesia, fenomena kesalehan personal sering kali terjebak dalam ruang hampa. Dikotomi yang memisahkan antara intensitas ibadah ritual dengan kepekaan sosial bukan sekadar kekurangan, melainkan sebuah kegagalan strategis dalam beragama.

Ibadah tanpa kepedulian itu tak berbuah.

Kegagalan ini mereduksi esensi agama yang seharusnya menjadi solusi atas problem kemanusiaan. Ketika sajadah terpisah dari realitas, spiritualitas kehilangan daya tawar sosialnya. Ibadah sejati seharusnya melahirkan karakter yang bermanfaat bagi semesta, bukan sekadar rutinitas yang mengasingkan penderitaan sesama.

“Rajin ibadah tapi kita tidak peduli kepada sesama, maka ibadah itu tidak ada buahnya,” tegas Al-Halats Muhidin, warga Thoriqoh Shiddiqiyyah.

Pernyataan ini menegaskan bahwa ketajaman zikir batin harus selaras dengan aksi luar. Transisi menuju kesadaran ini memerlukan landasan teologis yang kokoh agar aksi sosial tidak menjadi tren musiman.

Manunggalnya Keimanan dan Kemanusiaan: Spiritualitas Tanpa Kompromi

Dalam Thoriqoh Shiddiqiyyah, dimensi sosial bukan sekadar aktivitas ekstrakurikuler, melainkan syarat mutlak. Delapan Kesanggupan Shiddiqiyyah merupakan prasyarat masuk (barrier to entry) bagi murid, yang mencakup bakti kepada sesama manusia dan cinta tanah air. Thoriqoh di sini adalah metode mendekatkan diri kepada Allah melalui kemanfaatan nyata.

Ketua Umum DHIBRA Pusat, Ibu Nyai Shofwatul Ummah, menegaskan posisi Tarekat Shiddiqiyyah sebagai kelompok yang menyeimbangkan kesalehan spiritual dan kepedulian sosial. Penegasan ini disampaikan untuk meluruskan pandangan bahwa aktivitas tarekat hanya berkutat pada ritual zikir semata.

Dalam keterangannya yang dikutip dari OPSHID Media pada Juli 2025, Ibu Shofwatul Ummah menampik anggapan bahwa jamaah hanya fokus pada kesalehan individu. Ia menekankan bahwa membahagiakan orang lain adalah inti dari ajaran yang mereka amalkan.

“Kalau ada yang mengatakan di Shiddiqiyyah hanya untuk wiridan saja itu kurang sesuai. Yang sesuai adalah yo wiridan untuk diri kita sendiri, juga ibadah sosial untuk membahagiakan orang lain,” tuturnya.

Filosofi ini berakar pada keyakinan Atas Berkat Rochmat Alloh Yang Maha Kuasa, yang mendorong kemandirian penuh (swadaya). Selama 25 tahun sejak 2001, warga Shiddiqiyyah telah menyalurkan lebih dari Rp51,2 miliar. Seluruh dana murni berasal dari shodaqoh jamaah, tanpa intervensi organisasi internasional, partai politik, maupun pemerintah.

Kemandirian ini melindungi gerakan dari upaya menjadikannya komoditas politik. Contoh nyata terlihat pada program Rumah Syukur Kemerdekaan Indonesia. Lebih dari 1.600 unit rumah dibangun permanen dari nol dengan standar kualitas tinggi untuk menjaga martabat penerimanya. Di jantung Bali, satu keluarga Hindu menerima kunci rumah yang dibangun oleh tangan-tangan warga Muslim, membuktikan iman tidak mengenal batas sektarian.

Filantropi ini berjalan tanpa proposal bantuan ke pihak luar, menciptakan kemandirian sipil yang kokoh dan mampu mengentaskan kemiskinan secara cepat tanpa terhambat birokrasi administratif.

Strategi Ramadan Membumi: Dari Sajadah Menuju Warisan Peradaban

Gerakan ini mengubah wajah tasawuf nusantara menjadi lebih progresif dan membumi. Spiritualitas tidak lagi hanya soal ritual individu, melainkan berdampak langsung pada ekonomi umat.

Target Ramadan bukan lagi soal pencapaian personal semata. Karakter Rahmatan lil ‘Alamin hanya bisa diraih jika ibadah ritual individu berbanding lurus dengan kemanusiaan. Pertanyaannya kini sederhana namun menantang: di pengujung bulan suci nanti, apakah kita hanya akan mengejar khatam Al-Quran, atau juga sanggup mencapai khatam dalam berbagi?***