​Menariknya, di tengah himpitan tersebut, negara justru menetapkan literasi nasional sebagai prioritas utama.

​Pemerintah meluncurkan program raksasa bernama Literacy Movement Organization. Program ini secara agresif mengirimkan guru ke desa-desa terpencil dan mengerahkan relawan mahasiswa. Mereka merancang kurikulum sederhana yang secara khusus menyasar pendidikan orang dewasa. Tujuannya sangat jelas: menghapus buta huruf hingga ke akarnya, bukan sekadar membangun sekolah anak.

​Hasilnya terbukti luar biasa. Angka literasi Iran melonjak drastis:

  • 1976: Sekitar 37 persen
  • 1996: Sekitar 79 persen
  • 2020: Lebih dari 90 persen

​Lonjakan paling dramatis terjadi pada tingkat literasi perempuan. Hanya dalam beberapa dekade, kaum perempuan Iran mengejar ketertinggalan pendidikan dengan kecepatan yang mengesankan.

​Fenomena Unik: Dominasi Perempuan di Kampus

​Salah satu fakta yang kerap membuat pengamat Barat tercengang adalah komposisi mahasiswa di Iran. Di era modern ini, jumlah mahasiswa perempuan sering kali melampaui jumlah laki-laki.

​Sejak memasuki tahun 2000-an, perempuan secara konsisten mendominasi bangku kuliah, bahkan mencapai angka 60% dari total mahasiswa universitas. Fenomena ini bisa terjadi berkat tiga hal:

  1. Sistem seleksi nasional yang murni berbasis ujian akademik.
  2. Dorongan kuat dari keluarga agar anak-anak mereka menempuh pendidikan tinggi.
  3. Biaya pendidikan yang relatif terjangkau bagi masyarakat luas.

​Saat ini, kampus-kampus besar seperti University of Tehran berfungsi sebagai pabrik pencetak ilmuwan, dokter, dan insinyur jempolan. Fakta ini sekaligus menempatkan Iran sebagai salah satu negara dengan jumlah insinyur per kapita tertinggi di kawasan Timur Tengah.

​Merombak Kesehatan dari Pelosok Desa

​Selain pendidikan, pemerintah Iran juga menaruh perhatian serius pada kesehatan masyarakat. Mereka melahirkan inovasi brilian bernama health house (rumah kesehatan) yang mulai beroperasi pada era 1980-an.

​Konsep ini mengandalkan klinik kecil di setiap desa yang dikelola langsung oleh petugas kesehatan lokal. Fokus utama mereka adalah tindakan preventif, seperti pencegahan penyakit, vaksinasi massal, serta pemantauan kesehatan ibu dan anak.