Bagi banyak orang, rumah yang seharusnya menjadi tempat rebah tanpa syarat justru berubah menjadi panggung ujian kesuksesan yang sering kali menyesakkan dada.
Oleh: Faried Wijdan | Penulis KosongSatuID
Merantau sering menyisakan sunyi. Padahal, rumah adalah tempat kembali merebahkan lelah tanpa syarat, bukan panggung ujian.
Namun sayangnya, bagi banyak perantau, realita justru berkata lain. Alih-alih menjadi pelukan yang menenangkan, bayang-bayang tentang rumah acap kali menjelma menjadi tuntutan tak kasat mata yang terus menghantui di tanah seberang. Pergeseran makna ini tidak terjadi dalam semalam, melainkan sudah berakar kuat sejak detik-detik pertama sebuah perpisahan dimulai.
Ekspektasi Berat di Balik Pamitnya Seorang Anak
Saat mencium tangan orang tua di stasiun atau terminal, keluarga sering menitipkan harapan besar. “Pergilah sejauh mungkin, cari pengalaman, ubah nasib keluarga,” ucap mereka. Kalimat itu terdengar penuh doa, tetapi seiring waktu perlahan berubah menjadi ransel berat yang membebani langkah.
Hari demi hari, ekspektasi tumbuh tanpa suara. Lingkungan sekitar diam-diam membentuk standar tak kasat mata bahwa seorang perantau wajib pulang membawa cerita kemenangan. Pemikiran inilah yang membuat merantau seolah menjadi medan perang tanpa garis akhir.
Sepi yang Memeluk Malam-Malam Perantauan
Bayangkan duduk sendirian di kamar kos yang sempit saat gema takbir hari raya mulai bersahutan. Jari jemari perlahan membuka aplikasi tiket kereta, memandangi jadwal keberangkatan yang hampir habis. Namun, layar ponsel akhirnya dibiarkan meredup tanpa ada satu pun tiket yang terbeli.
Ia tidak pulang bukan karena rindu itu sudah habis. Justru karena rindu itu terlalu menyesakkan dada. Ketakutan menghadapi rentetan pertanyaan keluarga sukses menahan langkahnya. Ia takut tersenyum canggung saat tetangga bertanya, “Kerja apa sekarang?”, “Gajinya cukup?”, atau “Sudah bisa beli apa saja di kota?”.
Selama berbulan-bulan, ia belajar menelan kesepiannya sendiri. Ia merayakan hari besar dengan semangkuk mi instan, menahan rindu dalam diam, dan mengirim pesan singkat, “Maaf, tahun ini belum bisa pulang, masih banyak kerjaan.”




Tinggalkan Balasan