Selama 1.357 tahun, Tatar Sunda diam menyimpan ingatan. Ahad malam, 17 Mei 2026, ingatan itu akhirnya berbicara keras di pelataran Gedung Sate.
KOSONGSATU.ID — Angin Bandung tidak terasa biasa malam itu. Di pelataran Gedung Sate, lampu-lampu sorot membelah langit, sementara ribuan pasang mata terpaku pada panggung yang berdiri anggun. Ini bukan konser. Bukan pula seremoni ulang tahun biasa. Ini adalah malam ketika sebuah peradaban berusia lebih dari satu milenium memilih untuk berdiri tegak dan memperkenalkan dirinya kembali.
Pemerintah Provinsi Jawa Barat resmi menetapkan Milangkala Tatar Sunda ke-1357 yang dilaksanakan pada 18 Mei 2026 — merujuk pada tanggal lahirnya Kerajaan Sunda pada 18 Mei 669 Masehi. Malam Ahad itu, sehari menjelang puncak peringatan, ribuan warga memadati kawasan Gedung Sate untuk menyaksikan Peuting Munggaran — malam pertama yang dirancang sebagai momen refleksi sekaligus deklarasi kebudayaan.
Sunda Bukan Suku, Melainkan Peradaban
Di antara lautan manusia yang memadati area, tampak sejumlah tokoh nasional hadir: Jaksa Agung ST Burhanuddin, Sinta Nuriyah Wahid, hingga Didit Prabowo yang malam itu memilih melebur dalam kehangatan budaya Sunda. Kehadiran mereka bukan sekadar protokoler. Ini adalah sinyal bahwa apa yang terjadi di Bandung malam itu memiliki resonansi jauh melampaui batas provinsi.
Prolog malam dibuka oleh akademisi dari University of Nottingham, Prof. Bagus Muljadi, yang dengan tenang menggeser cara pandang yang selama ini mengerdilkan Sunda. Ia memperkenalkan Ensiklopedia Ki Sunda — proyek tiga jilid yang merangkum cara berpikir masyarakat Sunda dalam bingkai sains modern, melibatkan geografer, sejarawan, hingga matematikawan. Buku setebal 1.500 halaman itu, kata Bagus, adalah bukti bahwa kearifan lokal bukan sekadar hal eksotis — melainkan sistem pengetahuan yang bisa dipertanggungjawabkan secara ilmiah.
“Sunda tidak semata kita maknai sebagai identitas etnis, melainkan sebuah peradaban yang lekat dengan ilmu pengetahuan dan nilai-nilai kehidupan,” ujarnya. Generasi muda, tegasnya, perlu mengkaji warisan ini agar tidak kehilangan kompas sejarah mereka sendiri.
Ketika Gubernur Berbicara Soal Bumi
Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi naik ke podium membawa sesuatu yang jarang dibawa seorang pejabat ke panggung budaya: kegelisahan ekologis. Ia membedah filsafat Sunda tentang tiga tataran alam — alam bihari sebagai ranah ide, alam kiwari sebagai kondisi hari ini, dan alam poe isuk sebagai masa depan yang harus dijaga.
Dedi tidak berhenti pada teori. Ia berbicara tentang kawasan Pakuan yang mengalami eksploitasi masif, tentang tambang yang merobek tanah leluhur, tentang pembangunan yang berjalan tanpa berdialog dengan alam. Dalam pandangan kasundaan, katanya, kerusakan lingkungan bukan sekadar masalah tata ruang — melainkan pengkhianatan terhadap jati diri.
“Dalam perspektif Sunda, bertuhan itu beralam. Bersujud kepada Tuhan diimplementasikan dengan mencium tanah saat bersujud,” ujarnya. Kalimat itu menggantung di udara malam, sederhana tapi tajam.
Kepala Daerah dan Janji Keselarasan
Wali Kota Sukabumi Ayep Zaki, yang hadir bersama Wakil Wali Kota Bobby Maulana, ikut menambahkan tekanan moral. Kirab budaya ini melibatkan 27 kepala daerah se-Jawa Barat — sebuah sinergi lintas wilayah yang jarang terjadi dalam konteks kebudayaan. Ayep menegaskan bahwa momentum ini harus menjadi landasan membangun karakter masyarakat yang tidak hanya religius, tetapi juga peduli pada alam sekitarnya.
“Budaya Sunda tidak hanya harus kita lestarikan sebagai warisan leluhur, tetapi juga wajib kita jadikan landasan dalam membangun karakter masyarakat yang harmonis, religius, dan peduli lingkungan,” katanya.
Pajajaran Gugat dan Janji Pajajaran Baru
Menjelang tengah malam, panggung Gedung Sate beralih rupa. Chocky Sitohang dan Oni S.O.S membuka pertunjukan kolosal yang dinantikan — memadukan musik teatrikal dan permainan cahaya megah untuk menghidupkan kisah Kerajaan Pajajaran dan kewibawaan Prabu Siliwangi. Tepukan kendang dan lengkingan tarawangsa seolah memanggil kembali kenangan kolektif masyarakat Sunda akan kejayaan masa lalu.
Drama musikal bertajuk Pajajaran Gugat itu bukan nostalgia semata. Di balik gemerlap panggung tersimpan pertanyaan yang sengaja dibiarkan menggantung: jika Pajajaran pernah agung, apa yang tersisa dari keagungan itu hari ini — dan ke mana ia akan dibawa esok?
Penetapan Hari Tatar Sunda oleh Pemprov Jabar bukan keputusan yang muncul tiba-tiba. Tanggal 18 Mei dipilih karena berkaitan dengan momen transisi kekuasaan dari Kerajaan Tarumanegara menjadi Kerajaan Sunda oleh Maharaja Tarusbawa — berdasarkan bukti dari Pustaka Rajyarajya i Bhumi Nusantara dan catatan Dinasti Tang. Sejarah, dengan demikian, bukan hanya warisan — melainkan argumen.
Peuting Munggaran Milangkala Tatar Sunda ke-1357 bukan sekadar malam perayaan. Ia adalah pernyataan: bahwa sebuah peradaban yang sudah 13 abad berdiam di bumi Pasundan tidak sedang meminta dikenang — ia sedang meminta didengar.***




Tinggalkan Balasan