​Merespons kebingungan Darwin, Ernst Haeckel (16 Februari 1834 – 9 Agustus 1919), seorang ilmuwan taksonomi asal Jerman, mengajukan gagasan revolusioner. Haeckel menduga kuat bahwa nenek moyang manusia sebenarnya berasal dari Hindia Belanda (sekarang Indonesia). Ia menamai benua awal yang tenggelam di kawasan ini sebagai Lemuria.

​Haeckel mengklaim bahwa banyak jejak peradaban awal gagal ditemukan karena daratan Lemuria telah lama terkubur di dasar laut kepulauan Nusantara. Untuk membuktikan teori gurunya, Eugene Dubois berangkat ke Indonesia.

Ekspedisi bersejarah ini membuahkan hasil luar biasa ketika Dubois menemukan fosil Manusia Jawa (Homo erectus), sebuah penemuan yang mengunci posisi Indonesia sebagai kawah candradimuka umat manusia.

Ilustrasi Peradaban Lemuria yang diprediksi berada di Samudra Pasifik. Foto ini dibersihkan ulang dengan teknologi AI. (Istimewa)

​Kejayaan Lemuria: Peradaban Spiritual yang Hilang di Pasifik

​Catatan sejarah kuno memperkuat posisi geostrategis wilayah Nusantara dan Pasifik pada masa purba. Peneliti abad ke-19, Augustus Le Plongeon (1826-1908), berhasil menerjemahkan catatan kuno peninggalan Bangsa Maya.

Ia menemukan fakta bahwa Bangsa Lemuria memiliki usia peradaban yang jauh lebih tua daripada nenek moyang Bangsa Maya, yakni Atlantis.

​Lemuria eksis sekitar periode 75000 SM hingga 11000 SM dan berlokasi di wilayah Timur Jauh yang kini mencakup bentangan Samudera Pasifik dan Kepulauan Nusantara.

Banyak arkeolog meyakini Pulau Paskah (Easter Island) dengan patung kolosalnya merupakan sisa-sisa daratan Lemuria. Kisah turun-temurun Suku Maori juga mengonfirmasi adanya daratan besar di Pasifik yang tenggelam oleh gelombang pasang dahsyat.

​Berbeda dengan Bangsa Atlantis yang agresif dan mengandalkan teknologi militer, Bangsa Lemuria di Nusantara menjunjung tinggi nilai spiritual dan kedamaian.

Mereka memakmurkan tanah yang subur dan menguasai ilmu pengetahuan alam. Melalui metode spiritual, Edgar Cayce mengungkapkan bahwa masyarakat Lemuria menggunakan kristal raksasa sebagai sumber energi dan alat penyembuhan.