Buk Gludhuk bukan sekadar jembatan tua di Kota Malang. Viaduk peninggalan kolonial ini menjadi satu-satunya akses kereta dari Stasiun Malang Kotabaru menuju selatan Jawa Timur dan tetap kokoh hingga kini.
KOSONGSATU.ID—Jembatan ini lebih dari sekadar tumpukan beton tua yang membelah Jalan Embong Brantas. Buk Gludhuk adalah sebuah viaduct atau jembatan layang aktif yang memegang peran paling vital dalam sejarah transportasi Kota Malang.
Hingga detik ini, ia berfungsi sempurna sebagai satu-satunya akses kereta api dari Stasiun Malang Kotabaru menuju wilayah selatan seperti Blitar dan Tulungagung. Tanpa jembatan ini, jalur logistik dan penumpang di Jawa Timur bagian selatan akan lumpuh total.
Namun, kekeliruan penyebutan nama masih sering terdengar di telinga. Banyak yang menyebutnya “Bog Glodok” atau sekadar Jembatan Gluduk. Padahal, nama “Buk Gludhuk” adalah sebuah asimilasi jenius antara istilah teknis Belanda dan kepekaan telinga masyarakat Jawa.
Kata “Buk” merupakan pelafalan lokal untuk “Boog”, yang dalam bahasa Belanda berarti pelengkung atau busur. Ini merujuk langsung pada konstruksi arsitekturnya yang ikonik. Sementara “Gludhuk” adalah onomatope, sebuah kata yang meniru bunyi gemuruh roda kereta saat menghantam rel di atasnya. Jadi, secara harfiah, ini adalah “Jembatan Pelengkung yang Bergemuruh”.
Menjawab Tantangan Zaman
Kekuatan struktur jembatan ini bukan kebetulan semata. Ir. Budi Fathony, seorang Pemerhati Tata Kota dan Dosen Arsitektur yang juga ahli Cagar Budaya Malang, menjelaskan bahwa desain ini dipilih dengan perhitungan matang untuk menaklukkan kontur Malang yang berbukit.
Dalam diskusi pada 14 Februari 2024, Budi menekankan pentingnya bentuk lengkung tersebut.
“Mas, struktur pelengkung atau ‘Boog’ itu bukan sekadar hiasan. Itu adalah teknologi transfer beban terbaik di zamannya. Tanpa lengkungan itu, getaran kereta akan menghancurkan beton dalam hitungan tahun,” ujarnya sembari menunjukkan sketsa teknis jembatan.
Ia juga menyoroti visi masterplan kolonial yang memisahkan jalur kereta di atas dan jalan raya di bawah untuk menghindari kemacetan—sebuah masalah yang justru semakin relevan hari ini.




Tinggalkan Balasan