Pencabutan Holland Taylor dari PBNU memicu sorotan baru soal jejak hubungan dan tudingan afiliasi Zionis.

KOSONGSATU.ID—Ketua Umum PBNU KH Yahya Cholil Staquf atau Gus Yahya menolak keras tudingan keterlibatan dengan Zionis. Ia menegaskan tidak punya hubungan dengan Israel maupun jaringan Zionis internasional.

“Tidak ada afiliasi apa pun. Tahun 2018 saya memang pernah ke Israel, tapi saya datang demi Palestina. Semua sudah tahu itu,” kata Gus Yahya di Surabaya, Minggu (23/11/2025).

Pernyataan itu disampaikan di tengah mencuatnya isu pencabutan penunjukan penasihat khusus PBNU asal Amerika Serikat, C. Holland Taylor. Dan pencabutan ini, menurut informasi yang berkembang, merupakan rangkaian alasan Rais Aam mendesak agar Gus Yahya mundur dari kursi Ketua Umum PBNU.

Ketua Umum PBNU Yahya Cholil Staquf (tengah) diapit C. Holland Taylor dari CSCV (kiri) dan Syekh Abdurrahman al-Khayyat, Ketua Liga Muslim Dunia untuk Asia Tenggara dan Australia (kanan), mengeluarkan Komunike R20 di Hotel Hyatt Regency, Yogyakarta, Jumat, 4 November 2022). – Istimewa

Jejak Holland Taylor Menyertai Tokoh NU

Sebagai informasi, Rais Aam PBNU KH Miftachul Akhyar resmi mencabut penunjukan Holland Taylor sebagai penasihat khusus melalui keputusan bertanggal 23 November 2025. Laporan BangsaOnline menyebut pencabutan dilakukan karena Taylor dianggap terafiliasi jaringan Zionis internasional.

Menurut penelusuran KosongSatuID, Taylor bukan nama baru di lingkungan PBNU. Ia menjabat penasihat internasional bagi Ketua Umum PBNU dan terlibat dalam sejumlah agenda global jam’iyyah.

Namanya kembali disorot setelah arsip Wikileaks mencatat keterlibatannya dalam mengorganisir kunjungan lima tokoh Islam Indonesia ke Israel pada 2008.

Kunjungan itu berlangsung diam-diam dan difasilitasi bersama The Simon Wiesenthal Center, sebagaimana diungkapkan akademisi UIN Sunan Kalijaga, Lien Iffah Naf’atu Fina, dalam artikelnya di islami.co pada 16 Juli 2024.

Menurut Lien, langkah tersebut bertujuan mendorong pluralisme dan melawan ekstremisme, meski tetap memunculkan kritik sebagian kalangan di Indonesia.

CSCV dan Hubungan Internasional PBNU

Taylor adalah CEO Center for Shared Civilizational Values (CSCV), lembaga berbadan hukum North Carolina, AS, yang sering dikaitkan dengan kegiatan internasional PBNU.

Nama CSCV muncul dalam surat berbahasa Inggris tertanggal 22 September 2021 yang dikirimkan Gus Yahya—ketika masih Katib Aam PBNU—kepada Rabbi David Saperstein. Dalam surat itu, Saperstein diminta menjadi penasihat CSCV, menjelang pelaksanaan Forum Religion of Twenty (R20) pada 2022 dan 2023.

Ketua LTN PBNU, Ishaq Zubaedi Raqib, dalam tulisannya di detik.com pada 22 Mei 2022 menjelaskan CSCV dibentuk sebagai kendaraan untuk membawa wawasan keislaman ala NU ke panggung internasional tanpa harus menggunakan perangkat formal PBNU. Sebelumnya, lembaga ini bernama Bayt ar-Rahmah sebelum diganti agar lebih mudah diterima komunitas non-muslim.

Kedekatan Lama dengan Tokoh PBNU

Hubungan Taylor dengan tokoh-tokoh NU sudah terjalin sejak awal 2000-an. Ia mendirikan LibForAll Foundation pada 2003 bersama Presiden ke-4 RI KH Abdurrahman Wahid atau Gus Dur.

Enam tahun kemudian, ia dan Gus Dur mendirikan Institut Internasional Studi Al-Qur’an (IIQS) bersama Gus Mus, A. Syafii Maarif, dan cendekiawan Mesir Nasr Hamid Abu-Zayd.

The Wall Street Journal pada 2007 memuji LibForAll sebagai model diplomasi publik yang efektif di dunia Muslim. Pada 2014, Taylor, Gus Mus, dan Gus Yahya mendirikan Bayt ar-Rahmah yang kemudian bermetamorfosa menjadi CSCV.

Ihwal dokumen penting PBNU seperti Deklarasi ISOMIL (2016), Deklarasi Humanitarian Islam (2017), hingga Manifesto Nusantara (2018), Taylor tercatat sebagai salah satu penyusunnya. Ia juga pernah naik haji dan menggunakan nama Muslim: Muhammad Cholil.

Holland Taylor bersama Produser Film Dominic Jackson dan Yahya Cholil Staquf saat bertemu di Rembang, Jawa Tengah, untuk pembuatan sebuah studio produksi film di Ponpes Roudlatut Tholibin pada tahun 2016. – Dok. CSCV

Benarkah Terafiliasi Zionis?

Tudingan afiliasi Zionis menguat terutama karena keterlibatan Taylor dalam kunjungan ulama Indonesia ke Israel pada 2008. Namun sejauh ini, tudingan tersebut lebih banyak bersandar pada fakta aktivitas lintas agama dan diplomasi sipil—bukan bukti bahwa Taylor merupakan bagian dari organisasi Zionis.

Menurut Lien Iffah, kunjungan itu merupakan strategi diplomasi untuk mempromosikan dialog dan pluralisme di Timur Tengah. Meski demikian, karena dilakukan diam-diam dan melibatkan lembaga Yahudi internasional, sebagian pihak menaruh kecurigaan terhadap orientasi politik Taylor.

Kini, setelah pencabutannya oleh Rais Aam PBNU, perhatian publik kembali tertuju pada satu hal: apakah aktivitas Taylor selama ini murni ikhtiar diplomasi keagamaan atau menyimpan agenda yang belum terang?***