Di tengah semangat Ramadan, tak semua tubuh mampu berpuasa tanpa risiko—terutama bagi mereka yang hidup dengan gangguan ginjal dan lambung.


KOSONGSATU.ID—Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan juga ujian bagi keseimbangan fisiologis tubuh. Bagi penyintas penyakit kronis, keputusan berpuasa bukan perkara niat semata, melainkan pertimbangan medis yang presisi. Itulah pesan utama dalam seminar edukasi bertajuk Ramadan Bermakna: Panduan Puasa Aman dan Sehat bagi Lansia serta Penyintas Diabetes, Gangguan Ginjal, dan Gangguan Lambung yang digelar oleh Rumah Sakit Universitas Airlangga.

Dalam forum tersebut, dua dokter spesialis penyakit dalam—dr. Mutiara Rizki Haryati, SpPD-KGH dan dr. Andi Ratna Maharani, SpPD—mengurai batas aman puasa berdasarkan kondisi klinis pasien. Keduanya menegaskan: keputusan berpuasa harus disesuaikan dengan stadium penyakit dan respons tubuh masing-masing individu.

Batas Stadium Penyakit Ginjal

Dr. Mutiara menjelaskan bahwa penyakit ginjal terbagi menjadi dua kategori besar: akut dan kronis. Penyakit ginjal akut muncul tiba-tiba, sedangkan penyakit ginjal kronis menetap minimal tiga bulan dan berkembang secara bertahap.

Pada kasus kronis, kondisi pasien diklasifikasikan ke dalam lima stadium berdasarkan tingkat penurunan fungsi ginjal. Setiap stadium membawa konsekuensi berbeda terhadap kemampuan tubuh mengatur cairan dan membuang sisa metabolisme.

Pasien stadium satu dan dua, yang umumnya belum mengalami gangguan signifikan dalam pembuangan cairan dan limbah tubuh, dinilai masih aman menjalani puasa. Namun ketika memasuki stadium tiga, pertimbangannya menjadi lebih kompleks.

Stadium 3a, menurutnya, sebaiknya tidak berpuasa, meski dalam kondisi tertentu masih dimungkinkan dengan pengawasan ketat. Pada stadium 3b, risiko semakin tinggi sehingga lebih sehat bila tidak berpuasa. Adapun pasien stadium empat dan lima—terutama yang belum menjalani cuci darah—tidak direkomendasikan berpuasa karena dapat mempercepat kebutuhan dialisis.

Ia menekankan bahwa pasien yang sedang menjalani terapi rutin, termasuk hemodialisis, sebaiknya tidak berpuasa. Selain berpotensi memperburuk kondisi, prosedur terapi tersebut juga membatalkan puasa. Sementara bagi pasien transplantasi ginjal, puasa baru dianjurkan setelah melewati satu tahun pascaoperasi.

Di luar klasifikasi medis itu, pesan yang paling berulang adalah konsultasi. Gejala penyakit ginjal bisa berbeda pada setiap pasien. Bagi yang memutuskan berpuasa, menjaga hidrasi menjadi kunci—memastikan asupan cairan cukup saat sahur dan berbuka, serta menghindari makanan tinggi fosfat dan kalium yang dapat membebani ginjal.

Di titik ini, puasa tak lagi sekadar ibadah, melainkan negosiasi halus antara keyakinan dan fungsi organ.

Maag, Gaya Hidup, dan Tanda Darurat

Sementara itu, dr. Andi mengulas gangguan lambung yang kerap dianggap sepele: maag atau dispepsia. Gangguan ini, katanya, lebih sering dipicu pola makan dan gaya hidup yang kurang terkontrol.

Makanan pedas, asam, berlemak, serta produk olahan berlebihan menjadi pemicu utama. Risiko meningkat bila disertai konsumsi kafein dan minuman bersoda. Namun faktor terbesar sering kali bukan pada menu, melainkan pada kebiasaan: stres berkepanjangan, penggunaan obat antinyeri tanpa pengawasan dokter, merokok, langsung berbaring setelah makan, hingga pola makan tak teratur.

Ramadan, dengan perubahan jadwal makan yang drastis, bisa menjadi momentum perbaikan sekaligus potensi kekambuhan. Menghilangkan kebiasaan buruk justru dapat membantu proses penyembuhan.

Namun dr. Andi mengingatkan ada batas yang tak boleh diabaikan. Jika muncul nyeri berat mendadak, muntah terus-menerus, sakit kepala disertai keringat dingin hingga pingsan, muntah darah, atau buang air besar berwarna hitam, puasa wajib dibatalkan. Mengabaikan tanda tersebut berisiko memicu komplikasi serius.

Tubuh, dalam konteks ini, berbicara lebih jujur daripada ambisi spiritual.

Antara Ibadah dan Keselamatan

Seminar ini menegaskan satu hal: puasa bagi penderita penyakit kronis bukan keputusan seragam. Ada spektrum kondisi medis yang harus dihormati. Dalam Islam sendiri, keringanan diberikan bagi mereka yang sakit—sebuah prinsip yang sejalan dengan pertimbangan medis modern.

Bagi sebagian pasien, puasa mungkin tetap bisa dijalani dengan penyesuaian. Bagi yang lain, memilih tidak berpuasa bukanlah kegagalan iman, melainkan bentuk tanggung jawab terhadap tubuh yang dititipkan.

Ramadan, pada akhirnya, bukan hanya soal menahan diri, tetapi juga memahami batas diri. Dan dalam batas itulah, kesehatan menjadi bagian dari ibadah itu sendiri.***