Jack Downey, Head of Strategy, Operations and Product di Webster Pass Consulting, membenarkan hal ini dari pengalamannya di lapangan. Ia menjelaskan bahwa ritme kerja mesin yang tidak konsisten memaksa otak manusia untuk terus berganti fokus atau context switching.
”Kadang satu tugas selesai dalam lima detik, yang lain butuh 50 detik, dan yang lain lagi lima menit. Jadi kita terus berganti fokus,” jelas Downey.
Memicu Kesalahan Fatal hingga Niat Resign
Pekerja yang mengalami brain fry terbukti lebih sering melakukan kesalahan. Mereka juga mengalami peningkatan decision fatigue (kelelahan dalam mengambil keputusan) hingga 33 persen. Akibatnya, proses pengambilan keputusan menjadi jauh lebih lambat.
Dampak terburuknya, kondisi ini mendorong karyawan untuk meninggalkan perusahaan. Studi mencatat bahwa niat resign meningkat hampir 10 persen pada pekerja yang melaporkan kelelahan mental akibat AI. Jika perusahaan membiarkan hal ini terjadi dalam skala besar, kerugian finansial dan anjloknya produktivitas tentu tidak bisa dihindari.
Solusi: Desain Ulang Cara Kerja
Meski dampaknya nyata, para peneliti menekankan bahwa solusinya bukanlah membuang atau berhenti menggunakan AI sama sekali. Perusahaan justru harus mendesain ulang sistem kerja. Jangan sekadar menambahkan alat AI baru ke dalam alur kerja yang sudah usang.
Pelatihan penggunaan AI yang tepat dan strategi manajemen yang jelas memegang peran krusial. Teknologi AI mungkin memiliki potensi tak terbatas, namun perusahaan harus ingat bahwa otak manusia tetap memerlukan waktu dan batasan untuk beradaptasi mengimbanginya.***



Tinggalkan Balasan