IHSG jatuh ke 7.129,49 setelah asing melepas saham raksasa perbankan. Tekanan rupiah dan risiko Timur Tengah menambah beban pasar.


KOSONGSATU.ID — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) menutup perdagangan Jumat (24/4/2026) dengan koreksi tajam. Indeks anjlok 249,12 poin atau 3,38 persen ke level 7.129,49 di Bursa Efek Indonesia.

Pelemahan itu memperpanjang tekanan pasar menjadi lima hari beruntun sejak Senin (20/4). Dalam sepekan, IHSG sudah turun 6,61 persen, sementara sejak awal tahun terkoreksi 17,55 persen.

Tekanan terbesar datang dari aksi jual investor asing. Mengutip data Kontan, asing mencatat jual bersih Rp2 triliun di seluruh pasar. Di pasar reguler, jual bersih bahkan menembus Rp3,02 triliun.

Bank Raksasa Jadi Sasaran

Saham perbankan berkapitalisasi besar menjadi sasaran utama pelepasan asing. PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatat jual bersih asing Rp2,1 triliun dan melemah 5,84 persen ke Rp6.050 per saham.

Tekanan juga menghantam PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dengan jual bersih asing Rp618,9 miliar. PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) ikut mencatat jual bersih Rp447,3 miliar.

Seluruh indeks sektoral berakhir di zona merah. Sektor barang konsumsi nonprimer turun 4,27 persen, energi melemah 4,22 persen, infrastruktur terkoreksi 4,08 persen, dan properti serta real estat ambruk 3,89 persen.

Total nilai transaksi bursa mencapai Rp24,34 triliun dengan volume 47,13 miliar saham. Sebanyak 670 saham melemah, hanya 83 saham menguat, dan 62 saham stagnan.

Rupiah Menambah Tekanan

Tekanan pasar saham berjalan beriringan dengan gejolak rupiah. Kontan mencatat rupiah spot pada Jumat (24/4) menguat ke Rp17.229 per USD, tetapi masih melemah 0,23 persen dalam sepekan.

Sehari sebelumnya, rupiah sempat menyentuh Rp17.321 per USD pada Kamis (23/4) pukul 14.24 WIB. Kurs Jisdor juga baru turun dari rekor lemah Rp17.308 per USD menjadi Rp17.278 per USD.

Risiko eksternal turut membebani pasar. Analis pasar modal sekaligus Founder Republik Investor, Hendra Wardana, sebelumnya mengingatkan konflik Iran, Amerika Serikat, dan Israel dapat memicu arus keluar dana dari pasar negara berkembang bila mengganggu jalur energi Selat Hormuz.