Sering dipandang dari lensa konflik, Iran ternyata sukses merombak sektor pendidikan dan kesehatan secara diam-diam. Ini buktinya.
Oleh: Faried Wildan | Penulis KosongSatuID
Banyak pengamat luar sering kali memandang Iran hanya dari dua sudut pandang sempit: konflik geopolitik dan sanksi ekonomi. Sejak Iranian Revolution meletus pada 1979, negara ini memang terus hidup di bawah bayang-bayang pembatasan, mulai dari sanksi Amerika Serikat hingga embargo teknologi.
Namun, ada satu sisi penting yang jarang dunia bicarakan. Iran sebenarnya tengah melakukan “revolusi diam-diam” di sektor pendidikan dan kesehatan.
Bagi para perencana negara di Tehran, kedua sektor ini merupakan fondasi utama kemandirian nasional. Ketika akses terhadap teknologi Barat tertutup rapat, satu-satunya jalan keluar untuk bertahan hidup adalah menciptakan kemampuan sendiri. Caranya? Membangun manusia yang terdidik dan sehat.
Mari kita bedah lebih dalam bagaimana transformasi ini terjadi.
Wajah Ganda Iran Sebelum Revolusi
Pada masa pemerintahan Mohammad Reza Pahlavi, Iran memang memancarkan aura modern dari luar. Kota-kota besar seperti Tehran menikmati industrialisasi yang cepat, berbagai universitas megah berdiri, dan pemerintah menjalankan proyek pembangunan berskala masif.
Sayangnya, modernisasi ini sangat timpang. Menjelang tahun 1979, Iran menghadapi realitas sosial yang memprihatinkan:
- Tingkat melek huruf nasional hanya menyentuh angka 35–40%.
- Penduduk di kawasan pedesaan mencatat angka melek huruf yang jauh lebih rendah.
- Perempuan menghadapi keterbatasan akses pendidikan yang sangat parah.
- Fasilitas kesehatan modern hanya menumpuk di pusat kota.
Singkatnya, Iran saat itu hanya menyuguhkan modernisasi untuk kaum elit, bukan untuk masyarakat luas. Ketimpangan inilah yang memicu kritik keras dari kelompok revolusioner dan akhirnya berujung pada runtuhnya sistem monarki.
Strategi Cerdas: Menggenjot Pendidikan Massal
Setelah revolusi sukses, pemerintah baru di bawah pimpinan Ruhollah Khomeini langsung berhadapan dengan badai krisis. Mereka harus melewati perang berdarah dengan Irak (1980–1988), menghadapi isolasi internasional, dan menahan guncangan ekonomi.




Tinggalkan Balasan