Di balik kharisma Presiden Soekarno yang mendunia, terselip nama seorang ulama kharismatik dari Tanah Abang yang jarang terekspos: Datuk Mujib bin Sa’abah.
KOSONGSATU. ID – Sosok keturunan Raja Bone ini bukan sekadar sahabat diskusi para pendiri bangsa seperti Hatta dan Sjahrir, tetapi juga diyakini sebagai sosok yang memberi “isi” pada tongkat komando ikonik Sang Proklamator. Lebih dari sekadar cerita mistis, Datuk Mujib adalah intelektual Islam yang melahirkan terobosan kitab Maulid berbahasa Indonesia dan menjadi saksi sejarah penamaan kota Jakarta.
Datuk Mujib bin Sa’abah bukanlah nama sembarangan di kalangan masyarakat Betawi lawas, khususnya di kawasan Warung Ayu, Tanah Abang, Jakarta Pusat. Pria keturunan Raja Bone, Sulawesi Selatan, yang lahir pada tahun 1870 ini adalah ulama seangkatan dengan Habib Ali Kwitang.
Meski tidak banyak catatan tanggal dan bulan wafatnya, jejak intelektual dan spiritualnya membekas kuat dalam sejarah kemerdekaan Indonesia. Ia adalah murid dari Guru Khalid Gondangdia yang memilih jalur pendidikan berbeda; alih-alih ke Makkah, Datuk Mujib menimba ilmu hingga ke India.
Pelopor Maulid Berbahasa Indonesia
Salah satu warisan terbesar Datuk Mujib adalah terobosannya dalam dakwah. Sepulangnya dari India, ia tidak hanya mengajarkan fikih, tauhid, dan akhlak, tetapi juga menyusun kitab Rawi Maulid dalam bahasa Indonesia beraksara Arab Melayu.
Langkah ini dianggap revolusioner pada zamannya. Tujuannya sederhana namun mulia: agar orang awam yang tidak mengerti bahasa Arab tetap bisa menghayati kisah Nabi Muhammad SAW. Kitab ini populer sejak tahun 1940-an dan terus dibacakan oleh kelompok rawi Ikatan Seni Betawi Tenabang (ISBAT) dengan iringan perkusi khas Tanah Abang.
Guru Spiritual Bung Karno dan Misteri Tongkat Komando
Nama Datuk Mujib sangat harum di kalangan elit pendiri bangsa. Ia bersahabat dengan Mohamad Hatta, Mohamad Roem, Sutan Sjahrir, hingga Muhammad Husni Thamrin. Namun, kedekatannya dengan Ir. Soekarno adalah yang paling melegenda.



0 Komentar