Uwi atau ubi ungu dari ladang Tarekat Shiddiqiyyah jadi solusi gizi baru: kaya serat, rendah glikemik, dan berpotensi kuat atasi stunting serta ketahanan pangan di tengah darurat bencana.


KOSONGSATU.ID–Di tengah upaya besar pemerintah menurunkan angka stunting, sebuah tanaman sederhana dari kebun-kebun Tarekat Shiddiqiyyah menawarkan harapan baru.

Uwi ungu, yang selama ini dianggap sebagai pangan alternatif, mulai menempati posisi strategis dalam diskursus ketahanan pangan dan perbaikan gizi nasional.

Uwi ungu bukan hanya sekadar substitusi beras. Dalam kajian ilmiah yang dilakukan oleh mahasiswa Universitas PGRI Semarang—dimuat dalam Journal of Food and Culinary, Vol. 3 No. 2 tahun 2020—uwi ungu terbukti dapat menjadi bahan baku nasi instan yang kaya gizi, khususnya dalam situasi darurat seperti bencana alam.

Dengan kandungan serat tinggi (3,00) dan kadar amilosa yang mendekati beras padi (sekitar 20 persen), serta indeks glikemik rendah (<55), uwi ungu dinilai layak menjadi pangan fungsional, khususnya untuk anak-anak yang rentan kekurangan gizi.

Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, angka prevalensi stunting Indonesia masih berada di angka 21,5 persen. Pemerintah menargetkan penurunan menjadi 18 persen pada 2025 dan 14,2 persen di tahun 2029, sesuai RPJMN.

Dalam Strategi Nasional Percepatan Penurunan Stunting (Stranas P3S), intervensi berbasis gizi sejak masa remaja putri dan kehamilan menjadi fokus utama. Di sinilah uwi ungu hadir sebagai intervensi sensitif yang alami, murah, dan kaya nutrisi.

Studi yang diterbitkan oleh Politeknik Harapan Bersama Tegal (2023) menunjukkan bahwa uwi ungu mengandung vitamin A tinggi, bahkan melebihi tomat, bit, dan wortel. Kandungan ini penting untuk mendukung perkembangan otak dan sistem imun anak.

Lebih jauh, uwi ungu terbukti aman dikonsumsi oleh semua kalangan, dari balita hingga lansia. Tidak mengandung lemak jahat dan memiliki kandungan antioksidan tinggi, uwi ungu menjadi kandidat kuat untuk masuk ke dalam kebijakan pangan nasional.

Langkah komunitas Tarekat Shiddiqiyyah yang membudidayakan uwi ungu secara massal kini tak bisa dipandang sebelah mata. Ia bukan hanya bagian dari gerakan swasembada pangan, tetapi juga simbol perlawanan terhadap stunting dan ketergantungan pada satu jenis bahan pokok.

Dengan strategi yang tepat, uwi ungu bisa menjadi bahan bakar baru bagi generasi sehat masa depan Indonesia.***