Sengketa usia batuan Gunung Padang memanas usai terjadi retraksi atau penarikan jurnal internasional. Menghadapkan klaim piramida dengan disiplin uji geofisika.

KOSONGSATU.ID — Hamparan balok andesit rebah di atas bukit setinggi 885 mdpl di Cianjur. Kabut tipis menyapu teras batu petilasan purba. Angin berhembus di sela batuan kekar kolom.

Di bukit 3 hektare itu, polarisasi sains mengeras tajam. Satu pihak mengklaim situs ini peradaban 27.000 tahun lalu. Pihak lain menyebutnya sekadar punden berundak alami.

Debat meledak usai jurnal Archaeological Prospection mencabut makalah riset pada 18 Maret 2024. Penerbit Wiley menuding ada kesalahan besar uji karbon tanah.

Polemik penarikan riset menandai krisis pembuktian arkeologi nasional. Tarik ulur klaim piramida mempertaruhkan reputasi sains Indonesia. Riset kini menuntut bukti fisik batuan.

Retraksi Sepihak dan Gugatan Peneliti

Pencabutan artikel memantik perlawanan Tim Terpadu Riset Mandiri (TTRM). Tim pimpinan Danny Hilman dan Ali Akbar ini memakai radar tanah serta seismik tomografi.

Uji radiokarbon tanah menghasilkan rentang 6.000 SM hingga 27.000 tahun lalu. Usia itu melampaui Piramida Mesir dan Göbekli Tepe Turki yang baru berusia 11.500 tahun.

Penerbit Wiley menilai uji radiokarbon cacat konteks antropogenik. Sampel tanah dinilai tak berasosiasi dengan artefak buatan manusia purba. TTRM menolak keras putusan itu.

Peneliti TTRM membeberkan investigasi jurnal berjalan rahasia. Kabar pembatalan bocor ke media Nature sepekan sebelum penulis resmi menerima surat keputusan.

Peneliti menilai makalah digugurkan hanya karena beda tafsir ahli. TTRM menegaskan tidak ada manipulasi, fabrikasi data, ataupun pelanggaran etika fabrikasi.

Bantahan Arkeolog dan Jejak Alamiah

Arkeolog senior BRIN, Dr. Lutfi Yondri, menolak narasi piramida buatan. Riset ekskavasinya sejak 1984 membuktikan balok andesit merupakan batuan alami di tempat asalnya.

Kekar kolom terbentuk murni dari pendinginan magma purba ratusan ribu tahun lalu. Manusia Zaman Logam pada kurun 500 SM hingga 45 SM hanya menatanya menjadi terasering.

Lutfi menyoroti kelemahan logika sejarah kubu piramida purba. Manusia Jawa Barat tertua di Gua Pawon baru terlacak 11.000 tahun lalu dalam taraf berburu sederhana.

Kritik tajam metode TTRM juga datang dari peneliti luar negeri. Arkeolog Bill Farley dan Flint Dibble menilai tanah alami purba pasti selalu berumur puluhan ribu tahun.

Sampel sedimen tanah kehilangan arti arkeologi tanpa bukti budaya. Tudingan piramida runtuh karena nihil temuan arang, sisa tulang hewan, atau perkakas litik.

Jejak Magnetik Batuan Sebagai Penengah

Kebuntuan metode karbon mendorong lahirnya instrumen alternatif. Peneliti geofisika UI, Dr. Reza Syahputra, memeriksa batuan lewat analisis suseptibilitas magnetik.

Metode ini membaca jejak arah medan magnet purba pada mineral batuan beku. Orientasi magnet terkunci permanen tepat saat magma mendingin ribuan tahun silam.

Parameter fisis ini menyajikan jawaban pasti tanpa bias organik. Jika orientasi magnet batuan acak, terbukti manusia purba memindahkan dan menyusun formasi balok.

Sebaliknya, bila arah vektor magnetik batuan masih seragam, struktur bukit murni karya pendinginan magma alamiah tanpa sentuhan peradaban maju pembuat piramida.

Hingga artikel ini diterbitkan, pihak Kementerian Kebudayaan belum memberikan tanggapan atas permintaan konfirmasi mengenai arah regulasi zonasi cagar budaya ini.

Sore hari, juru pelihara menyapu dedaunan di teras kelima Gunung Padang. Lumut menyelimuti balok andesit yang bisu. Butir magnetik di batu tetap menunggu putusan sains.***