Trailer dokumenter Syekh Yusuf al-Makassari: In the Blessing of Ceylon ditayangkan di Jakarta pada Jumat (09/10), bertepatan dengan peringatan 400 tahun kelahirannya. Menteri Kebudayaan Fadli Zon, di Amsterdam pada hari yang sama, menyebut warisan ulama Gowa itu menghubungkan Indonesia, Belanda, Sri Lanka, dan Afrika Selatan.
KOSONGSATU.ID – Penayangan dan diskusi digelar Madani Film Fest bersama Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia di Ruang Jacob Oetama. Festival yang bertema “Rimpang: Menjalar, Menyembuhkan” berlangsung 7–11 Oktober 2026. Peringatan 400 tahun kelahiran Syekh Yusuf, yang lahir pada 1626 dan wafat pada 1699, juga masuk komemorasi tokoh UNESCO periode 2026–2027.
Dari Penasihat Banten ke Pengasingan
Dosen Fakultas Islam Nusantara Unusia Ginanjar Sya’ban memaparkan kiprah Syekh Yusuf sebagai penasihat urusan agama Kesultanan Banten. Ia membantu menyusun strategi gerilya melawan Vereenigde Oostindische Compagnie pada masa Sultan Ageng Tirtayasa. Kompeni menangkapnya pada 1683 di kawasan Priangan Timur. Setelah ditahan di Batavia, ia diasingkan ke Ceylon, kini Sri Lanka, pada 1684.
Pengasingan di Sri Lanka berlangsung hampir satu dekade, hingga 1693. Di sana ia menulis, termasuk karya Al-Barakat as-Sailaniyah, dan menerima murid. Ginanjar merujuk catatan penulis Belanda yang menyebut seorang ulama lokal, Syekh Ibrahim, datang berguru.
Menurut penuturan itu, Syekh Yusuf menjawab, “Apalah saya ini yang masih seorang murid yang harus belajar.” Judul catatan Belanda yang disebut “Old and New as Indie” dalam naskah asal tidak terkonfirmasi di sumber yang dicek hari ini.
Pengaruhnya yang tetap besar membuat kompeni memindahkannya lebih jauh. Pada 1693 ia dikirim ke Tanjung Harapan, Afrika Selatan, dan wafat di sana pada 23 Mei 1699. Fadli Zon, dalam peringatan di Indonesia House Amsterdam pada Jumat (09/10), mengatakan, “Pengasingan tidak membungkam beliau. Sebaliknya, gagasan dan ajarannya terus hidup.”
Dzikir yang Tidak Berhenti di Lisan
Dewan Pengarah Madani Film Fest Inayah Wulandari Wahid menautkan jejak itu dengan tema festival. Ia mengatakan jarang menemukan ulama modern yang menjadikan ritual atau dzikir sebagai langkah awal memberantas kezaliman.
Dalam Al-Barakat as-Sailaniyah, menurut penjelasannya, Syekh Yusuf menyingkirkan perdebatan tata cara dan menukik ke substansi: dzikir sebagai instrumen membangun kesadaran yang tidak berhenti saat lisan terdiam.
Produser Irvan Aulia memilih tokoh ini karena ingin menampilkan sufi yang tidak hanya memperbaiki hubungan dengan Tuhan di tempat sunyi.
“Melalui dokumenter ini, saya ingin menawarkan cara baru memahami sosok dan warisan intelektualnya,” kata Irvan, sebagaimana dicatat Unusia. Ginanjar merumuskan corak itu sebagai sufisme falsafi, yang menerjemahkan nilai filosofis menjadi gerakan yang menantang penolakan pada masanya. Rumusan itu adalah bacaan pembicara, bukan kesimpulan resmi film.
Dua Panggung, Satu Nama
Pameran “Sacred Journey of Syekh Yusuf Al-Makassari” berlangsung 9–15 Oktober di Amsterdam. Kementerian Kebudayaan juga menggelar seminar hibrida bertajuk “Syekh Yusuf Al-Makassari: Collective Memories of Knowledge, Freedom, and Humanity Across the Indian Ocean”.
Di Jakarta, diskusi Jumat menutup dengan ajakan membaca spiritualitas sebagai gerakan yang tetap berjalan ketika kebebasan fisik direnggut.
Hari ini, Minggu (11/10), adalah hari terakhir Madani Fest. Naskah asal menulis Syekh Yusuf “mendobrak tradisi sufi” dan menjadikan dzikir “senjata spiritual”. Dua frasa itu tidak muncul sebagai kutipan pembicara di sumber yang dicek, sehingga tidak ditulis sebagai fakta.***




Tinggalkan Balasan