Dewan Perwakilan Rakyat mendesak TNI dan Kemlu segera bentuk rencana darurat pembebasan empat WNI yang disandera perompak Somalia, di tengah laporan kondisi sandera yang kian kritis setelah 65 hari.

KOSONGSATU.ID – Empat anak buah kapal (ABK) warga negara Indonesia yang disandera perompak di perairan Somalia kini dalam kondisi kritis. Persediaan makanan dan air menipis, sejumlah kru jatuh sakit, dan kapten kapal memohon bantuan lewat video.

Anggota Komisi I DPR Syamsu Rizal, Rabu (24/6/2026), meminta TNI dan Kementerian Luar Negeri segera menyusun rencana darurat (contingency plan) pembebasan empat WNI tersebut. Ia menilai pendekatan yang ditempuh selama ini belum efektif.

“Panglima TNI dan Kemlu sudah menyampaikan untuk membuat crash program. Ada contingency plan, karena model-model penyelesaian konflik yang terjadi ternyata belum efektif,” kata Syamsu di Jakarta.

Kondisi Makin Mengkhawatirkan

Keempat WNI itu adalah Kapten Ashari Samadikun (Gowa), Adi Faizal (Bulukumba), Wahudinanto (Pemalang), dan Fiki Mutakin (Bogor). Mereka merupakan ABK kapal tanker MT Honour 25 berbendera Uni Emirat Arab, yang dibajak di perairan Hafun, Somalia, pada 22 April 2026, saat berlayar dari Oman menuju Mogadishu.

Syamsuddin, ayah salah satu sandera, mengungkapkan kondisi anaknya kian memburuk berdasarkan informasi terakhir yang diterimanya.

“Air sudah berkurang, makanan juga semakin sedikit. Banyak yang sakit dan mengalami tekanan berat karena tidak ada kepastian kapan mereka dibebaskan,” kata Syamsuddin, Minggu (21/6/2026).

Kapten Ashari dalam video yang beredar tampak kurus, rambut dan janggut memanjang, dengan pakaian lusuh. Ia memohon bantuan segera: “Kondisi kami sekarang sangat-sangat kritis. Kami tidak tahu harus bertahan dengan apa.”

Negosiasi Masih Berlangsung

Kemlu menyatakan KBRI Nairobi terus berkoordinasi dengan berbagai pihak di Somalia, termasuk pemerintah setempat dan manajemen kru kapal. Negosiasi pembebasan masih berjalan, namun belum ada informasi resmi mengenai nilai tebusan yang diminta.