Sesajen dengan segala ubarampenya dituding klenik. Padahal, di balik kemenyan dan tumpeng tersimpan desain kognitif yang kini diakui neurosains.
KOSONGSATU.ID – Setiap kali asap kemenyan mengepul dalam ritual slametan, sebagian orang langsung mundur sambil melabeli: klenik, syirik, bahkan sesat. Reaksi ini sangat manusiawi—dan sangat keliru.
Namun, pendekatan antropologi budaya menempatkan ubarampe (perlengkapan sesajen) bukan sebagai medium komunikasi dengan roh, melainkan sebagai sistem simbol yang terstruktur. Leluhur Jawa menyadari keterbatasan bahasa verbal yang mudah terlupakan dan terdistorsi oleh waktu. Solusinya: mereka merumuskan ajaran teologi dan ekologi melalui bahasa material yang bisa dilihat, diraba, dan direnungkan.
Artinya, sesajen adalah proposal doa—sebuah ungkapan harapan kepada Sang Pencipta yang disampaikan lewat medium fisik penuh makna.
Geometri Ketuhanan dalam Seporsi Nasi
Tumpeng bukan sekadar penyajian nasi berbentuk kerucut. Dalam kosmologi Jawa klasik, bentuk kerucut merepresentasikan Gunung Mahameru—axis mundi atau poros dunia yang menghubungkan ranah manusia dengan ranah ilahi. Puncak yang menjulang mengingatkan bahwa segala keragaman eksistensi pada akhirnya bermuara pada satu titik: Sang Khalik. Ini adalah rumusan geometris tentang Manunggaling Kawula Gusti—kesatuan antara manusia dan Tuhannya.
Bersanding dengan tumpeng, jenang abang putih (bubur merah-putih) hadir sebagai pengingat biologis sekaligus teologis. Warna merah merepresentasikan sel telur ibu, putih mewakili sperma ayah. Penyatuannya merangkum ajaran Sangkan Paraning Dumadi—kesadaran akan asal-usul manusia dan ke mana ia akan berpulang. Manusia diminta menundukkan egonya dengan mengingat bahwa eksistensinya lahir dari harmoni dua insan.
Neurosains di Balik Kepulan Asap
Aspek yang paling sering disalahpahami adalah kemenyan. Kepulannya kerap direduksi menjadi atribut horor. Padahal, jauh sebelum diffuser aromaterapi dipatenkan, leluhur Jawa telah menerapkan prinsip neurosains melalui pembakaran getah kemenyan (Styrax benzoin).
Kajian menggunakan Gas Chromatography-Mass Spectrometry (GC-MS) membuktikan getah kemenyan mengandung asam sinamat sebagai senyawa dominan. Ketika senyawa ini terinhalasi, molekulnya berinteraksi dengan reseptor olfaktori dan menstimulasi sistem limbik—pusat emosi di otak. Studi Iijima et al. (2009) yang dipublikasikan dalam Neuropsychobiology mengonfirmasi bahwa aroma dupa secara signifikan meningkatkan aktivitas gelombang alfa di korteks otak—kondisi yang identik dengan ketenangan mendalam dan prasyarat kekhusyukan doa.
Sementara kembang setaman menebarkan aroma flora yang—dalam logika simbolik Jawa—merepresentasikan harapan agar nama keluarga senantiasa harum di masyarakat.
Epistemologi Keselamatan yang Utuh
Seluruh orkestrasi simbolik ini bermuara pada satu tujuan: mencapai kondisi slamet—selamat, damai, dan sejahtera. Manusia Jawa membangun harmoni tritunggal: dengan Tuhan, dengan sesama, dan dengan alam semesta—inilah inti dari Memayu Hayuning Bawana.
Kerangka ini dikupas secara akademis dalam “Faham Keselamatan dalam Budaya Jawa” (Saksono & Dwiyanto, 2012), yang menggunakan pisau bedah sosiologi dan filsafat untuk mendekonstruksi mitos-mitos usang. Ritus daur hidup Jawa—dari Mitoni, Tedhak Siten, hingga peringatan kematian—terbukti berfungsi sebagai instrumen pendidikan moral, bukan aktivitas mistisisme gelap.
Kebudayaan selalu menyimpan rasionalitasnya sendiri, yang kerap melampaui logika positivistik sempit. Sesajen dan slametan adalah bukti kecemerlangan leluhur dalam merumuskan sistem makna yang mengawinkan dimensi spiritual, biologis, dan ekologis secara sekaligus. Memahami makna di balik simbol tidak membuat kita menjadi lebih “Jawa”—melainkan menjadi lebih arif, lebih kritis, dan lebih jujur dalam menilai warisan peradaban.
Sudahkah Anda meninjau ulang asumsi tentang tradisi yang selama ini Anda anggap sekadar takhayul?***
Daftar Referensi
Jurnal Ilmiah
- Iijima, M., Osawa, M., Nishitani, N., & Iwata, M. (2009). Effects of incense on brain function: Evaluation using electroencephalograms and event-related potentials. Neuropsychobiology, 59, 80–86. https://pubmed.ncbi.nlm.nih.gov/19325250/
- Nurwahyuni, I., Benardo, N., Svencer, P., & Manihar, S. (2022). Cinnamic acid in frankincense sap as a criterion for determining the best mother plant for vegetative propagation of Styrax benzoin (Sumatra benzoin) in Sumatra, Indonesia. International Journal of Forestry Research. https://doi.org/10.1155/2022/4160241
- Endraswara, S. (t.t.). Memayu hayuning bawana dalam perspektif ekoantropologi sastra. SUSASTRA: Jurnal Ilmu Susastra dan Budaya. https://susastra.hiski.or.id/jurnal/index.php/susastra/article/view/17
- Ridwansyah, dkk. (2025). Kandungan kimia kemenyan Sumatra Utara (Styrax benzoin) dan prospek pengembangannya: tinjauan literatur. Agrointek: Jurnal Teknologi Industri Pertanian. https://journal.trunojoyo.ac.id/agrointek/article/view/27527
- Habibullah, M., dkk. (2024). Sangkan Paraning Dumadi sumbu filosofi Yogyakarta: Dalam lensa fenomenologi-hermeneutika. Nun: Jurnal Studi Alquran dan Tafsir di Nusantara, 7(1). https://jurnalnun.aiat.or.id/index.php/nun/article/view/233
- Wibowo, T. (2018). Endogami: Merapi dan mitos orang Jawa tentang gunung. Jurnal Ilmiah Kajian Antropologi, Universitas Diponegoro. https://ejournal.undip.ac.id/index.php/endogami/article/download/21300/14273
- Pradopo, S., & Apsari, dkk. (2023). In silico study of incense as anxiolytic agents targeting GABA-A receptors. Biology, Medicine, & Natural Product Chemistry, 12. https://sciencebiology.org/index.php/BIOMEDICH/article/download/536/278
Buku
- Saksono, I. G., & Dwiyanto, D. (2012). Faham keselamatan dalam budaya Jawa. Ampera Utama. https://lib.unika.ac.id/repository/Faham%20Keselamatan%20dalam%20Budaya%20Jawa.pdf
- Endraswara, S. (2013). Falsafah kepemimpinan Jawa. PT Buku Seru.
Repositori & Lembaga Akademis
- Mahendra, dkk. (2021). Komponen kimia getah kemenyan (Styrax spp.) dari hutan rakyat Kabupaten Humbang Hasundutan, Sumatera Utara [Tesis]. Repositori UGM. https://etd.repository.ugm.ac.id/penelitian/detail/188214





Tinggalkan Balasan