Sesajen dengan segala ubarampenya dituding klenik. Padahal, di balik kemenyan dan tumpeng tersimpan desain kognitif yang kini diakui neurosains.
KOSONGSATU.ID – Setiap kali asap kemenyan mengepul dalam ritual slametan, sebagian orang langsung mundur sambil melabeli: klenik, syirik, bahkan sesat. Reaksi ini sangat manusiawi—dan sangat keliru.
Namun, pendekatan antropologi budaya menempatkan ubarampe (perlengkapan sesajen) bukan sebagai medium komunikasi dengan roh, melainkan sebagai sistem simbol yang terstruktur. Leluhur Jawa menyadari keterbatasan bahasa verbal yang mudah terlupakan dan terdistorsi oleh waktu. Solusinya: mereka merumuskan ajaran teologi dan ekologi melalui bahasa material yang bisa dilihat, diraba, dan direnungkan.
Artinya, sesajen adalah proposal doa—sebuah ungkapan harapan kepada Sang Pencipta yang disampaikan lewat medium fisik penuh makna.
Geometri Ketuhanan dalam Seporsi Nasi
Tumpeng bukan sekadar penyajian nasi berbentuk kerucut. Dalam kosmologi Jawa klasik, bentuk kerucut merepresentasikan Gunung Mahameru—axis mundi atau poros dunia yang menghubungkan ranah manusia dengan ranah ilahi. Puncak yang menjulang mengingatkan bahwa segala keragaman eksistensi pada akhirnya bermuara pada satu titik: Sang Khalik. Ini adalah rumusan geometris tentang Manunggaling Kawula Gusti—kesatuan antara manusia dan Tuhannya.
Bersanding dengan tumpeng, jenang abang putih (bubur merah-putih) hadir sebagai pengingat biologis sekaligus teologis. Warna merah merepresentasikan sel telur ibu, putih mewakili sperma ayah. Penyatuannya merangkum ajaran Sangkan Paraning Dumadi—kesadaran akan asal-usul manusia dan ke mana ia akan berpulang. Manusia diminta menundukkan egonya dengan mengingat bahwa eksistensinya lahir dari harmoni dua insan.
Neurosains di Balik Kepulan Asap
Aspek yang paling sering disalahpahami adalah kemenyan. Kepulannya kerap direduksi menjadi atribut horor. Padahal, jauh sebelum diffuser aromaterapi dipatenkan, leluhur Jawa telah menerapkan prinsip neurosains melalui pembakaran getah kemenyan (Styrax benzoin).



Tinggalkan Balasan